Sejarah AJI Malang

Selama bertahun-tahun kondisi insan pers di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) banyak tersubordinasi dan terkooptasi oleh kekuasaan dan kaum pemodal.

Dalam kondisi demikiran, pers di Malang Raya lebih banyak mewujud menjadi partner kekuasaan dan kaum pemodal daripada berfungsi sebagai pengontrol. Akibatnya, seringkali hak-hak masyarakat menjadi terabaikan.

Subordinasi dan kooptasi telah menjadi sebuah sistem yang dianggap wajar. Wartawan-wartawan muda yang awalnya datang dengan segepok idealisme ikut terseret dalam kumparan iklim yang tidak sehat itu.

Sejumlah wartawan yang merasa prihatin dengan kondisi itu berupaya mendobraknya. Upaya awal ditempuh dengan menyelenggarakan diskusi kecil dua mingguan sejak awal 2004.Topik yang diambil tak jauh dari isu pemberitaan yang sedang menghangat di Malang; tentang APBD dengan narasumber dari Malang Corruption Watch (MCW), peraturan perundangan-undangan dengan narasumber dari Pusat Pengkajian Otonomi Daerah (PP Otoda) Universitas Brawijaya, upah buruh dengan narasumber dari Dinas Tenaga Kerja dan sejumlah organisasi serikat pekerja.

Diskusi berlanjut kendati hanya dihadiri tak lebih dari sepuluh wartawan dan bahkan makin berkembang dengan menghadirkan narasumber dari luar Malang, seperti Eep Syaefullah Fatah, Feri Santoro, dan Dita Indahsari.Selain diskusi, upaya yang dilakukan adalah dengan cara menggelar aksi demonstrasi. Aksi turun ke jalan menuntut pembebasan wartawan RCTI, Ersa Siregar, dan Feri Santoro dilakukan.

Demikian juga dengan aksi menolak kriminalisasi pers terhadap Kantor Majalah Tempo dan tiga wartawannya, yakni Bambang Harymurti, Teuku Iskandar Ali, dan Ahmad Taufik. Ahmad Taufik pun didatangkan ke Malang untuk berkampanye menolak kriminalisasi terhadap pers.

Dari diskusi dan aksi demonstrasi, plus berbagai kegiatan yang melibatkan wartawan, keinginan berorganisasi mulai membuncah. Setelah menelaah keberadaan sejumlah organisasi wartawan, maka Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang kemudian dipilih.Demi mewujudkan pendirian AJI di Malang, wartawan yang telah menjadi anggota AJI menjalin komunikasi dengan AJI Surabaya. Ketua AJI Surabaya Sunudyantoro diundang ke Malang untuk memberikan penjelasan tentang keorganisasian AJI.

Sembari menunggu penyelesaian persyaratan pendirian organisasi, anggota AJI Malang terus menggelar kegiatan, antara lain dengan menyelenggarakan Konser Amal Grup Musik Boomerang bekerja sama dengan Tim SAR Mahameru Malang. Hasil konser di tiga tempat itu disumbangkan untuk korban bencana gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain itu juga diselenggarakan pelatihan peliputan satwa liar bekerja sama dengan ProFauna Indonesia.

Setelah urusan administrasi pendirian AJI diselesaikan dan calon anggota diinisiasi oleh Ketua Umum AJI Indonesia Edy Suprapto di Malang, maka AJI Malang dideklarasikan dengan status sebagai AJI Persiapan pada 28 Mei 2005.

Deklarasi ditandai dengan diskusi terbuka bertema Independensi Media dalam pemilihan kepala daerah yang dihadiri oleh Ketua Umum AJI Indonesia dan Ketua AJI Surabaya. Diskusi diadakan di Kampus Universitas Brawijaya Malang bekerja sama dengan MCW dan PP Otoda.Rapat anggota AJI Persiapan Kota Malang yang diikuti 21 anggota AJI digelar dengan agenda utama pemilihan pengurus sementara.

Hasilnya, Bibin Bintariadi (Koresponden Tempo) terpilih sebagai ketua, Winuranto Adhi (Koresponden Majalah Trust) terpilih sebagai wakil ketua, Dini Mawuntyas (Harian Suara Indonesia) terpilih sebagai sekretaris, dan Yenny Arga (Radio MAS FM) terpilih sebagai bendahara.

Setelah menunggu hampir enam bulan, pada Kongres AJI Indonesia VI di Cipanas, Jawa Barat, 24-27 November 2005, status AJI Malang ditetapkan sebagai AJI Kota.()

Share