Menolak Remisi untuk Pembunuh Jurnalis

Menolak Remisi untuk Pembunuh Jurnalis

Puluhan massa jurnalis dari berbagai organisasi pers, aktivis pers mahasiswa dan pegiat antikorupsi berunjukrasa di depan Balai Kota Malang, Jumat, 25 Januari 2018. Mereka menuntut Presiden Joko Widodo mencabut remisi untuk I Nyoman Susrama.

Susrama, otak pembunuh wartawan Radar Bali, Jawa Pos Grup, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Remisi dari vonis seumur hidup menjadi penjara 20 tahun penjara. Pemberian remisi itu menciderai rasa keadilan bagi keluarga korban dan jurnalis di Indonesia.

“Itu adalah langkah mundur, sekaligus preseden buruk terhadap kemerdekaan pers di Indonesia,” kata koordinator aksi, Abdul Malik.

Jokowi menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 tentang Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Penjara Sementara. Keppres tertanggal 7 Desember 2018, terbit dua hari sebelum Hari Anti Korupsi Internasional.

Keppres itu memberikan keringanan hukuman terhadap 115 terpidana. Nama Nyoman Susrama ada di nomor urut 94 sebagai penerima remisi. Setelah mendapat remisi itu, bisa saja Susrama akan kembali menerima keringanan sampai pembebasan bersyarat.

Pemberian remisi itu merupakan kado pahit bagi upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Sekaligus langkah mundur atas penegakan hukum dan keadilan kasus pembunuhan jurnalis. Menjadi preseden buruk bagi perjuangan kemerdekaan pers dan demokrasi.

Koordinator Badan Pekerja Malang Corruption Watch (MCW) Fakhruddin dalam orasinya mengatakan, remisi untuk otak pembunuhan jurnalis yang mengungkap kasus korupsi adalah bukti ketidakseriusan pemerintah dalam memberantas korupsi di negeri ini.

“Ini menjadi ancaman tidak hanya bagi jurnalis, tapi juga kelompok masyarakat dalam melawan korupsi,” kata Fakhruddin.

Massa aksi terdiri dari AJI Malang, IJTI Korda Malang Raya, IJTI Pengda Jawa Timur, PWI Malang Raya, PFI Malang, PPMI Malang dan Malang Corruption Watch. Selain orasi, juga membacakan puisi. Massa juga berjalan mundur sebagai simbol mundurnya kemerdekaan pers di Indonesia.

Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis

Jurnalis di Malang Raya menuntut Jokowi mencabut remisi untuk pembunuh jurnalis (Foto : Falahi Mubarok)

Dibunuh Karena berita

Narendra Prabangsa menulis berita di Radar Bali tentang dugaan korupsi yang dilakukan Nyoman Susrama. Yakni sejumlah proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli pada Desember 2008 sampai Januari 2009. Atas berita itu, Susrama merencanakan pembunuhan terhadap Prabangsa.

Eksekusi dilakukan pada 11 Februari 2009 di rumah pribadi Susrama. Tak hanya memerintahkan anak buahnya, Susrama ikut memukul. Prabangsa dibuang ke laut, mayatnya ditemukan mengapung lima hari kemudian di Teluk Bungsil, Bali.

Pengusutan kasus pembunuhan itu penuh jalan berliku. Susrama ditahan pada 26 Mei 2009. Majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada 15 Februari 2010 memvonis penjara seumur hidup. Masih lebih ringan dibanding tuntutan jaksa berupa hukuman mati. Sementara anak buah Susrama dihukum 5 – 20 tahun penjara.

Pengadilan Tinggi Bali menolak banding yang diajukan Susrama dan anak buahnya. Mahkamah Agung pada 24 September 2010 menguatkan putusan Pengadilan Negeri Denpasar yang memvonis penjara seumur hidup. Sekaligus menolak kasasi yang diajukan Susrama.

Putusan hukuman itu semula jadi angin segar penegakan hukum dan pengusutan kasus pembunuhan terhadap jurnalis di tanah air. Sebab, masih banyak kasus yang belum diusut sampai tuntas. Terjadi impunitas, pembiaran atas kasus jurnalis terbunuh karena berita. Ironisnya, Jokowi memberi remisi terhadap Susrama, pembunuh jurnalis Prabangsa.

Sejak 1996, tercatat ada 10 kasus pembunuhan jurnalis. Satu di antaranya adalah pembunuhan terhadap jurnalis Radar Bali, Narendra Prabangsa. Sayangnya, dalang utama pembunuhan itu malah mendapat remisi dari Presiden Jokowi.

Sedangkan kasus lain yang belum diusut tuntas antara lain ; Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin wartawan Harian Bernas, Yogyakarta (1996). Naimullah, jurnalis Harian Sinar Pagi di Kalimantan Barat (1997). Sayuti Buchari, jurnalis Tabloid Mingguan Pos Makasar di Ujungpandang (1997). Agus Mulyawan, jurnalis Asia Press tewas di Timor Timur (1999).

Muhammad Jamaluddin, juru kamera TVRI yang bekerja di Aceh (2003). Ersa Siregar jurnalis RCTI tewas tertembus peluru TNI di Aceh (2003). Herliyanto, jurnalis Tabloid Delta Pos Sidoarjo (2006). Ardiansyah Matra’is Wibisono, jurnalis Merauke TV (2010). Alfred Mirulewan, jurnalis Tabloid Pelangi di Maluku (2010).

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *