Cek Informasi, Jangan Ikut Sebarkan Hoaks

Cek Informasi, Jangan Ikut Sebarkan Hoaks

Malang – Seratusan mahasiswa, pegiat media sosial dan aktivis di Malang, Jawa Timur, belajar bersama enangkal kabar bohong atau hoaks. Agar mereka lebih cermat di belantara media sosial, tak turut terjebak menyebarkan hoaks.

 

Mereka belajar bersama dalam halfday basics workshop hoax busting and digital hygiene yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Internews, Google News Initiative, pada Jumat, 16 November di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang.

 

Mereka dilatih menelusuri berita dan mengecek kebenarannya. Juga menelusuri foto dan video menggunakan beragam tools. Peserta juga diingatkan pentingnya keamanan dan kebersihan digital agar data pribadi tak mudah diretas. 

 

Ketua Program Doktoral Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Bambang D Prasetyo mengatakan, warganet harus cerdas memilih dan memilah informasi yang bertebaran di media sosial setiap hari.

 

“Hoaks menyebar dan berkelindan di media sosial setiap hari. Maka, polisi sekarang ini juga harus memiliki intelektualitas,” katanya. 

 

Ia mengimbau warganet untuk lebih hati-hati dalam menerima informasi. Jika tahu informasi yang diterima adalah hoaks, jangan ikut menyebarkannya. Tak sedikit warganet yang ikut terjebak mendistribusikan berita tak benar atau hoaks. 

Pelatihan menangkal hokas (AJI Malang)

Peserta halfday basics workshop hoax busting and digital hygiene dilatih dua trainer tersertifikasi Google. Yakni akademikus Lilik Dwi Mardjianto dan jurnalis Inggried Dwi Wedhaswary. Inggried menyebutkan hoaks berseliweran karena tingkat literasi rendah. Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 Negara. Sedangkan pengguna media sosial menempati urutan kelima dunia.

 

“Kemampuan mengolah informasi rendah. Sehingga mudah menyebarkan hoaks. Tanpa cek ulang dan verifikasi,” kata Inggried.

 

Lilik Dwi Mardjianto menjelaskan jika internet merupakan belantara. Jika tak memahami literasi digital sama dengan orang tersesat di belantara tak punya kompas. “Kita tak tahu arah. Bisa ikut terlibat menyebarkan hoaks,” kata Lilik. 

 

Ia menunjukkan informasi miss informasi dan disinformasi. Disinformasi motifnya awal untuk sekedar lucu-lucuan, mencari sensai dan mencari keuntungan. “Disinformasi sengaja menyebarkan hoaks karena ada maksud tertentu,” ujarnya.

 

Bahkan bekas Menteri Informatika dan Informasi Tifatul Sembiring pernah menyebarkan hoaks. Berupa foto korban pembantaian pengungsi Rohingya di Myanmar. Padahal foto tersebut merupakan pembantaian muslim di Thailand Selatan oleh militer Thailand.  Korban merupakan demonstransi umat muslim Thailand. Sebanyak 78 umat Islam tewas. 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *