3 Dosen UB Teliti Ashadi Siregar

3 Dosen UB Teliti Ashadi Siregar

 

Antoni

Dr Antoni, MSi saat menyampaikan hasil penelitiannya tentang sosok pers Indonesia, Ashadi Siregar

ASHADI SIREGAR merupakan tokoh penulis yang tenar, baik itu dibidang sastra ataupun jurnalis. Ia rajin mencatat, serta mengkritisi perkembangan pers Indonesia. Ia juga sempat berkiprah dalam beberapa media massa, seperti Kompas dan Surabaya Post.

Ashadi Siregar

Suasana diskusi dan ‘Workshop Pengimplementasian Nilai Nilai Pers di Indonesia Sebagai Penunjang Good Governance’.

Selain itu, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini juga pernah terlibat dalam pembuatan majalah mingguan Sendi di tahun 70’an. Sayang, majalah itu hanya sampai di edisi ke 13. Majalah itu kemudian dibredel karena terlalu kritis, lalu Ashadi duduk di kursi pengadilan dengan status terdakwa.

Meski demikian, pria yang lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada 3 Juli 1945 ini tak gentar. Ia tetap mencatat, lalu menuliskan buah pemikirannya tentang pers Indonesia hingga kini, bahkan membuat tiga dosen Universitas Brawijaya, Malang tertarik meneliti pemikiran jurnalis Ashadi. Ketiga dosen itu adalah Dr Antoni, MSi, Nisa Alfira SIKom MA, dan Sri Handayani Spd MIKom.

“Pemikiran Ashadi menjadi penting untuk diteliti mengingat kiprahnya yang panjang dan konsisten dalam memikirkan serta turut berkiprah memperjuangkan kondisi pers Indonesia yang sehat,” tulis Antoni dalam latar belakang penelitiannya, ‘Workshop Pengimplementasian Nilai Nilai Pers di Indonesia Sebagai Penunjang Good Governance’.

AJI

Dr Antoni Msi memberi cinderamata pada Ketua AJI Malang, Hari Istiawan

Mereka meneliti pemikiran Ashadi melalui berbagai tulisan di media massa sejak April 2015, hingga Oktober 2015. Hasil penelitian itu kini bisa dilihat public. Antoni juga  menyampaikan penelitian tersebut di kantor AJI Malang, Jl Kunto Bhasworo VIII No 21, Kota Malang dalam bentuk diskusi pada Sabtu (12/9/2015), mulai Jam 19.00 hingga selesai.

Kegiatan yang terbuka untuk umum, mulai dari jurnalis/wartawan, mahasiswa serta aktivis, dihadiri sekitar 20 orang. ()

Penulis Adrianus Adhi

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *