RESENSI FILM: Jenderal Soedirman dan Hantu Pita Merah

Diambil dari muvila.com/resources/real/2015/07/27/23011/film-jenderal-soedirman-pastikan-tayang-bulan-agustus-2015.jpg

Salah satu sequel film Jenderal Soedirman. (Foto diambil dari muvila.com

 

Peresensi: Eko Maryadi, Jurnalis anggota AJI.

“Dor-dor”, suara bedil tentara menyalak di pinggir hutan di kawasan Jawa Timur.

Itulah adegan eksekusi mati tak terlihat terhadap Tan Malaka, pemimpin pejuang kemerdekaan yang ditangkap anggota tentara nasional. Dalam adegan sebelumnya digambarkan, Tan Malaka dan beberapa anggota lasykar, diseret ke hutan dalam kondisi tangan terikat dan ketakutan. Aksi penangkapan itu konon atas perintah Panglima Divisi Jawa Timur Kolonel Sungkono, untuk menyimpulkan dalam –film itu– bahwa, Tan Malaka adalah bandit komunis, sedangkan Jenderal Soedirman adalah ayah kandung TNI.

Usai menonton film Jenderal Soedirman di bioskop XXI, sadarlah saya bahwa ada masalah akut bangsa ini yang belum selesai. Yakni adanya dendam kesumat sebagian pemilik negeri terhadap bekas pemilik negeri yang terusir dan tidak lagi diizinkan hidup di republik ini. Ini perseteruan usang antara hantu komunis versus tentara nasional yang patriotik.

Kalau dendam kesumat itu tersimpan dalam hati mungkin tidak masalah. Menjadi masalah jika dendam kesumat terus dipelihara bahkan diwariskan kepada anak cucu, sambil menanamkan seakan-akan itu bagian dari sejarah bangsa.

Film Jenderal Soedirman aslinya sebuah tayangan sejarah. Lebih tepatnya sejarah perjuangan mantan tentara Jepang yang memimpin perang gerilya di pedalaman hutan Jawa untuk meladeni agresi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Fokus utamanya perjuangan Soedirman di lapangan, keluar masuk hutan, demi menunjukkan eksistensi TNI, di tengah penyakit paru-paru yang merongrong hidupnya.

Secara sinematografi, film Jenderal Soedirman lumayan menarik. Suasana desa, gunung, hutan, pasar rakyat dan keluguan-kelucuan pedagang-pedagang kecil, sesekali muncul mencairkan ketegangan. Di tengah itu adegan serangan udara pesawat-pesawat Belanda terhadap sasaran di darat cukup mendebarkan. Mata penonton bisa mengikuti jatuhnya bom dari udara sehingga mirip game perang-perangan.

Banyaknya aktor bule sebagai tentara Belanda yang sering memaki “verdomme”, meyakinkan penonton bahwa Belanda memang serius menjajah Dutch East-Indies. Ada juga bule-bule baik yang muncul sebagai diplomat Barat pendukung perjuangan bangsa Indonesia melalui perundingan. Penonton yang mengharapkan film perang massal pasti akan kecele. Ini film gerilya yang selow dan terus terang, agak miskin karakter.

Kontroversi si Pita Merah

Konflik tampaknya menjadi ciri menonjol dalam film Jenderal Soedirman. Ini yang membuat film terasa berdaging saat ditonton.
Misalnya konflik antara kelompok pejuang diplomasi versus pejuang revolusi fisik. Kelompok pejuang diplomasi yakni para tokoh terdidik dan perunding berdasi, sering jalan-jalan ke luar negeri, diwakili Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan beberapa lainnya. Sedangkan kelompok pejuang fisik, yang mengangkat senjata, keluar masuk hutan, diwakili Soedirman (tokoh utama, diperankan aktor ganteng, Adipati Dolken), Nolly alias Tjokropranolo, dan Karsani (mantan copet yang insyaf dan ikut angkat senjata melawan Belanda).

Seharusnya, Tan Malaka masuk ke dalam kelompok pejuang revolusi. Pada satu bagian, Tan Malaka (diperankan oleh Mathias Muchus), ikut berjuang melawan Belanda di lapangan. Ia mengobarkan slogan “Merdeka 100 Persen”, ikut mengangkat senjata, sambil melakukan pendidikan politik untuk rakyat. Namun di ujung film, Tan Malaka justru menjadi tokoh antagonis yang mati karena tindakannya terlalu radikal. Sutradara Viva Westi film cukup sukses memisahkan karakter Soedirman paham militer dan setia kepada pemerintah, dengan karakter Tan Malaka yang haus kuasa dan berbahaya —karena berpidato dengan latar bendera Palu Arit.

Konflik antara gang diplomat dengan gang tentara tergambar melalui dialog Soedirman dan Soekarno. Saat posisi Indonesia terjepit, Bung Karno mengatakan, “Saya harus tetap di sini (istana) bersama rakyat”. Itulah penolakan Bung Karno terhadap permintaan Soedirman agar dirinya mau keluar dari istana dan melawan Belanda dengan bergerilya ke dalam hutan. Dalam film disebutkan, akibat menolak bergerilya, Belanda menangkap Soekarno-Hatta. Namun secara diplomatik, tindakan Belanda menawan pemimpin Republik yang tak bersenjata, justru memancing kecaman internasional.

Yang justru mengganggu adalah penggambaran serampangan di lapangan antara tentara nasional pro-pemerintah dengan pasukan kemerdekaan yang -dianggap- komunis. Diantaranya melalui tokoh Soedirman, yang berkarakter sabar, kalem, berwibawa. Sebaliknya kesan agresif, radikal, jago pidato, dimunculkan lewat Tan Malaka. Dalam film ini, kehadiran tentara rakyat yang komunis ditandai dengan pasukan bersenjata yang memakai “pita merah” di lengannya.

Kita memaklumi, bahwa yang disebut tentara nasional pada era kemerdekaan (1945-1949) adalah pasukan cair, belum terorganisir, tidak punya senjata memadai, cuma bermodalkan berani dan sabar. Lawannya, Belanda punya pasukan terlatih, senjata lengkap, serta perangkat propaganda perang modern. Namun penggambaran “tentara komunis” yang berpita merah itu memang aslinya begitu, atau hanya buatan sutradara?

Salah satu adegan yang menyebalkan, saat sekelompok tentara berpita-merah lewat suatu kota kemudian mereka pergi meninggalkan pedagang makanan tanpa membayar. Si ibu pedagang kecil itu ngamuk, “Tentara kok makan nggak bayar”. Selanjutnya, muncul tiga anggota tentara Soedirman yang diutus membeli keperluan harian ke kota, dan dengan baik hati, mereka mengganti makanan yang “dirampok” tentara komunis.

Pada bagian inilah saya menilai film Jenderal Soedirman disisipi pesan anti-komunis, atau anti Tan Malaka. Tidak kaget jika melihat sponsor utama film ini adalah Yayasan Kartika Eka Paksi dan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) bekerja sama dengan Padma Pictures.

Dalam sinetron TV murahan, sering dimunculkan karakter orang baik lawan orang jahat, yang tulus melawan yang khianat. Padahal realita sehari-hari, dunia tidaklah hitam putih. Dewasa ini, yang seringkali melanggar aturan seperti menjadi centeng orang kaya atau melindungi bisnis bermasalah justru dari institusi berseragam resmi. Bukan pasukan Pita Merah.

Dari 100 menit durasi film, ada satu yang mencuri perhatian karena mirip adegan film Platoon. Yakni Karsani, si pejuang rakyat yang kepergok patroli Belanda saat menjemput temannya yang tertinggal karena kelelahan. Tubuh ceking si inlander malang ini tewas dihujani peluru Belanda yang gagal menangkap Soedirman. Jasad Karsani akhirnya dikubur di pinggir hutan dan mendapat penghormatan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Akhirnya Jenderal Soedirman wafat dalam usia 35 tahun akibat sakit paru-paru. Beruntung penonton melihat sendiri bagaimana panglima besar TNI itu terus merokok selama bergerilya di hutan. Jika tak ada rokok, saya kuatir kematian Soedirman akan dilimpahkan kepada Hantu Pita Merah atau dikambinghitamkan kepada Tan Malaka.[]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *