Organisasi Pers Dan LSM Bentuk Koalisi


Rabu, 16 Januari 2013 21:13

MALANG – Kasus tindak kekerasan, yang dilaporkan oleh jurnalis perempuan Malang Post, Ira Ravika Anggraini, disikapi serius oleh berbagai organisasi pers serta LSM, yang bergiat dalam hal kemanusiaan dan perlawanan terhadap kekerasan.
Mereka sepakat bergabung dalam Koalisi Masyarakat Antikekerasan (KOMA) dan menyusun langkah konkret untuk mengawal pengusutan kasus tersebut, serta mencegah berulangnya hal serupa pada jurnalis lain.

Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor redaksi Malang Post Jalan Sriwijaya 1-9, Rabu (16/1) kemarin, sejumlah organisasi pers dan LSM sepakat, tindak kekerasan yang dialami Ira Ravika, adalah tindak kekerasan yang diakibatkan profesinya sebagai jurnalis. Koalisi Masyarakat Anti Kekerasan tersebut terdiri dari 14 organisasi yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Malang, FWKM (Forum Wartawan Kota Malang), JK (Jurnalis Kanjuruhan) Kabupaten Malang, FKWB (Forum Wartawan Kota Batu), Jurma (Jurnalis Malang), LBH Pers Surabaya, LBH Surabaya Pos Malang, KontraS Surabaya (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), SBSI Malang, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup), PP Otoda Universitas Brawijaya, MCW (Malang Corruption Watch) dan Komunitas Melek Media Komunikasi UMM.

‘’Kita semua sepakat, tindakan kekerasan yang menimpa Ira, adalah berhubungan dengan profesinya sebagai jurnalis. Maka jangan berfikir ini tentang Malang Post saja. Tapi ini adalah tentang wartawan,’’ kata Sugeng Irawan, Ketua PWI Malang sekaligus moderator pertemuan tersebut.  Usai menyamakan tujuan, koalisi langsung membuat petisi yang ditandatangani oleh 14 anggota Koalisi Masyarakat Anti Kekerasan. Petisi yang berisi dua tuntutan tersebut, akan diserahkan langsung ke Polres Malang Kota, sebagai satu bentuk dukungan kepada pihak kepolisian, untuk menuntaskan pelaporan yang dilakukan Ira Ravika sebelumnya.

‘’Isi petisi ini antara lain mengutuk kekerasan yang dialami jurnalis harian Malang Post Ira Ravika Anggraini, serta menuntut kepada Polres Malang Kota, untuk bersungguh-sungguh mengusut tuntas laporan yang telah dibuatnya,’’ kata Abdi Purmono, jurnalis senior Malang yang juga anggota AJI Malang. Apalagi, kata dia, kekerasan yang dialami Ira, melanggar UU 40 Tahun 1999.  Dalam pasal 8 disebutkan, wartawan saat menjalankan tugasnya, punya hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Sementara itu, perkembangan kasus itu sendiri, hingga seminggu setelah kejadian, Reskrim Polres Malang Kota, masih belum mendapat petunjuk siapa dua pelaku kekerasan tersebut.  Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP James Hasudungan Hutajulu ketika dikonfirmasi mengatakan, akan segera memanggil Ira Ravika. Paling lambat dalam minggu ini, wartawati yang biasa ngepos di Polres Malang Kota ini, akan dipanggil untuk diperiksa ulang.

Pemeriksaan tambahan tersebut, kata dia, diharapkan bisa dijadikan petunjuk polisi untuk mengungkap pelakunya. Pasalnya, dalam peristiwa kekerasan itu, Ira Ravika ini adalah mahkota yang menjadi saksi kunci utama. ‘’Saya harap Ira bisa mengenal ciri-ciri pelakunya, seperti memiliki ciri khusus sepeti tatto atau lainnya. Sebab hanya dia saksi kunci utama kami. Pemeriksaan Ira sendiri, akan segera kami agendakan. Surat pemanggilannya sudah dibuat oleh penyidik,’’ ungkap James Hasudungan Hutajulu, kepada Malang Post ketika ditemui di ruangannya siang kemarin.

Selain akan memeriksa Ira Ravika, polisi juga akan memanggil beberapa saksi di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) untuk dimintai keterangan.  ‘’Sebetulnya selama ini kami sudah bekerja. Hanya kami kesulitan dari ciri-ciri pelaku. Tidak ada saksi, baik korban atau saksi di sekitar TKP yang mencatat nomor polisi kendaraan pelaku. Kalau mungkin ada yang tahu, secepatnya pelaku pasti bisa ditangkap. Tetapi kami tetap berharap Ira nanti bisa mengenali pelakunya,’’ terang James.

Tidak hanya berpatokan pada saksi, untuk secepat mungkin mengungkap pelakunya, polisi juga akan mencari bukti petunjuk lain. Salah satunya adalah mencari rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Dengan bukti rekaman yang ada itu, setidaknya juga untuk memudahkan kerja polisi. Untuk motif di balik kejadian ini sendiri, perwira dengan pangkat balok tiga di pundaknya ini mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara dugaan motif kejadian itu adalah murni kekerasan. Masalahnya, jika mengerucut pada percobaan perampasan, sama sekali tidak ada barang milik korban yang hilang.

Untuk menyelidiki kasus kekerasan yang dialami Ira Ravika Anggraeni ini, Polres Malang Kota juga telah membentuk tim khusus. Tim tersebut diambil dari personil Crime Cruiser (CC) Reskrim Polres Malang Kota. Tim sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tim bagian lapangan dan tim sebagai penyidik. ‘’Semua informasi sekecil apapun yang didapat oleh tim ini, sudah kami minta untuk menyampaikan. Karena hal itu adalah sebuah perkembangan atau petunjuk untuk mengungkap kasus ini,’’ ujarnya. (agp/pit/avi)

http://www.malang-post.com/tribunngalam/60305-organisasi-pers-dan-lsm-bentuk-koalisi-

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *