Kasus Kekerasan Wartawan Selalu Menguap, Jurnalis Malang Mengadu Kepada Tuhan

Kirim Doa untuk Almarhum Aryono Linggotu

SENIN, 26 NOVEMBER 2012 13:50 WIB
Kasus Kekerasan Wartawan Selalu Menguap, Jurnalis Malang Mengadu Kepada Tuhan

Aksi Solidaritas Jurnalis di Malang untuk Aryono Linggotu /FOTO: dts
LENSAINDONESIA.COM: Para wartawan di Malang yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan (AJAK) mengelar aksi solidaritas di Jalan Basuki Rahmat, Senin (26/11/2012).
Aksi tersebut merupakan bentuk belasungkawa atas tewasanya Aryono Linggotu (Ryo), wartawan Harian Metro di Manado, Sulawesi Utara, Minggu (25/11/2012) sekitar pukul 05.00 WITA kemarin. Ryo tewas setelah setelah mengalami 14 tusukan benda tajam.
Dalam aksi tersebut para jurnalis mengadu kepaa Tuhan di depan patung sastrawan Chairil Anwar terkait dengan kekerasan yang terjadi terhadap wartawan selama ini.
Kematian Ryo itu menyulut keprihatinan para wartawan di Malang. Menurut Koordinator Aksi, Hari Setiawan, aksi ini memang tidak ditujukan pada aparat. Alasannya, selama ini sudah terlalu sering dan tak pernah ada dampak yang dirasakan. Sehingga, bosa melakukan aksi unjuk rasa ke aparat.
“Lebih baik mengadu pada Tuhan. Sebab, kita sudah jenuh mengadu pada aparat. Meski sudah sering mengadu, tindak kekerasan pada wartawan tak pernah berakhir. Ya, karena kasusnya memang dibiarkan menguap,” jelas dia yang diamini Ketua Aliansi Jurnalistisk Independent (AJI) malang, Eko Widianto.
Berdasarkan kondisi tersebut, para wartawan di Malang ini menggelar aksi dengan doa bersama. Mereka tidak hanya mengadu ke Tuhan soal banyaknya tindak kekerasan yang dialami para wartawan. Namun, juga mendoakan Ryo yang meninggal setelah ditusuk orang yang berlagak mabuk.
Selain mendoakan, mereka juga melakukan ritual ruwatan, membakar dupa, menabur bunga setaman. “Harapan kita lewat aksi ini agar dijauhkan dari kesialan. Sehingga, kita selalu selamat dalam menjalankan tugas jurnalistik,” tutur Eko Widianto dengan nada serius.
Meski begitu, para jurnalis ini tidak meninggalkan adat istiadat dalam sebuah aksi unjuk rasa. Mereka juga mmbawa poster dan spanduk. Bahkan, mereka juga berorasi dan memampangkan foto para jurnalis yang tewas, tapi tidak terungkap siapa pelakunya.
Di antara foto jurnalis yang dipampang adalah Ryo Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin, wartawan Harian Bernas Yogyakarta 1996, Naimullah wartawan Harian Sinar Pagi (1997), Agus Mulyawan, wartawan Asia Press (1999). Selain itu, Muhammad Jamaluddin, kameramen TVRI (2003), Ersa Siregar, wartawan RCTI (2003), Herliyanto, wartawan lepas Tabloid Delta Pos Sidoarjo (2006), Alfred Mirulewan, wartawan Tabloid Pelangi (2010), dan Ridwan Salamun, kontributor SunTV dan RCTI (2010).
Mereka menuntut agar kasus tersebut diungkap secara tuntas dan transparan. Serta mencegah praktik imunitas, atau kejahatan tanpa hukuman. Peserta aksi juga menuntut perlindungan profesi terhadap jurnalis, penegakan Undang-Undang Pers serta menuntut perusahaan media memberikan perlindungan kepada pekerja pers. “Menghimbau jurnalis bekerja profesional dan mematuhi kode etik jurnalistik,” ujarnya.
Menurut Hari dan Eko Widianto, pelaku kekerasan cukup beragam. Yakini mulai oknum aparat militer, polisi, organisasi massa dan masyarakat sipil. Karena itu, dia mengajak masyarakat untuk menghormati kerja jurnalis yang menyampaikan informasi kepada publik. Serta menjauhi aksi kekerasan terhadap jurnalis hingga penghilangan nyawa.
Meningkatnya aksi kekerasan menempatkan Indonesia di urutan ke 146 dalam indeks kebebasan pers dunia, anjlok dibandingkan 2011 menempati peringkat 117. Posisi terbaik Indonesia terjadi pada 2002, menempati peringkat ke 57 dari 139 Negara.
Sementara itu, sesuai catatan AJI Indonesia, sejak Januari hingga Oktober 2012 terjadi 57 kasus kekerasan. Bandingkan dengan 2011,  tercatat 49 kasus. Sedangkan Dewan Pers mencatat selama Oktober-November terjadi 10 kasus kekerasan.
Semua itu, kata mereka, tidak terungkap sampai tuntas. Karena itu, wartawan mengadu pada Tuhan. Sebab, menurut mereka, aparat sulit diajak bicara. Sehingga, para wartawan di Malang lebih suka mengadu ke Tuhan.@aji dewa roisky
http://www.lensaindonesia.com/2012/11/26/kasus-kekerasan-wartawan-selalu-menguap-jurnalis-malang-mengadu-ke-tuhan.html
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *