Wartawan Malang: Polisi Berlagak Preman

Senin, 09 Mei 2011 17:36:10 WIB
Reporter : Yatimul Ainun

Malang (beritajatim.com) – Puluhan wartawan di Malang Raya (Kota Malang/Batu dan Kabupaten Malang) Senin (09/05/2011) siang menggelar aksi solidaritas ke Mapolresta Malang. Mereka mengecam tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota polisi Poltabes Surabaya kepada 4 wartawan asal Surabaya.

Aksi yang dilakukan puluhan wartawan itu, dilakukan di dua lokasi. Pertama dilakukan di depan gedung DPRD Kota Malang, dan dilanjutkan ke Mapolresta Malang.

Para awak media itu membawa beberapa poster. Misalnya bertuliskan “Polisi jangan seperti polisi tidur. Polda Jatim harus tindak pelaku kekerasan kepada 4 wartawan. Pelaku harus segera ditangkap. Tangkap pelaku. Polisi Berlagak Preman”.

Sebagai aksi solidaritas, para pewarta dari cetak dan elektronik itu mengumpulkan seluruh alat kerjanya, seperti Camera dan ID Card juga alat lainnya dengan ditaburi bunga. Hal itu menandakan matinya kebebasan pers dan masih maraknya kekerasan kepada wartawan.

Di Mapolresta, peserta aksi langsung ditemui Kapolresta Malang AKBP Agus Salim. Di depan puluhan wartawan Agus Salim menyampaikan, pelaku pemukulan oleh anggota polisi dari Poltabes Surabaya kepada 4 wartawan di Surabaya itu pasti akan ditindak tegas oleh Kapolda.

“Tidak akan dibiarkan. Pak Kapolda Jatim sudah meminta maaf terhadap sikap anggota polisi itu. Dari itu, saya dari Mapolresta Malang juga meminta maaf kepada para wartawan terhadap kasus tersebut,” katanya.

Untuk di Malang sendiri jelas Agus Salim, dijamin tak akan ada kekerasan kepada wartawan. “Setahu saya, di Malang belum pernah ada kekerasan kepada wartawan. Saya jamin anggota kami tak akan melakukan hal serupa,” katanya.

Kalau nantinya ada anggota polisi dari Mapolresta Malang ketahuan melakukan kekerasan kepada wartawan, akan langsung ditindak tegas. “Apalagi sampai melakukan kekerasan, saat melayani masyarakat duduk di atas meja itu sudah melanggar,” katanya.

Sementara itu, di depan Kapolresta Malang, salah satu koordinator aksi, Abdi Purmono menyampaikan, aksi solidaritas itu dilakukan, agar tidak terjadi di Malang Raya. “Harapan kami demikian. Karena kerja wartawan itu dilindungi oleh UU Pers,” katanya sembari memberikan surat berisi kecaman kepada pelaku pemukulan.

Abdi berharap agar polisi segera mengusut tuntas atas insiden tersebut dan memberikan sanksi tegas kepada para pelaku yang terbukti melanggar Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagaimana termaktub dalam Surat Keputusan Kapolri No. Pol: KEP/32/VI/2003 Tanggal 1 Juli 2003.

Seperti diberitakan sebelumnya, keempat wartawan yang dipukuli polisi saat melakukan peliputan itu diantaranta Lukman Rozak (Trans7), Septa (Radio Elshinta), Joko Hermanto (TVRI), dan Oscar (News Tang Dinasty Television/NDTV).

Empat wartawan itu, saat meliput unjukrasa massa Tionghoa dari sekte Falun Dafa atau Falun Gong di Taman Surya Balai Kota Surabaya, Sabtu (07/05/2011). [ain/but]

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2011-05-09/100323

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *