Bencana, Media, dan Keresahan

KORAN TEMPO, Jumat, 19 November 2010

AGUS SUDIBYO
Anggota Dewan Pers

Tewasnya wartawan Vivanews saat meliput letusan Merapi seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa keselamatan jiwa jurnalis harus diprioritaskan daripada dorongan untuk mendapatkan liputan yang eksklusif.

Kecepatan adalah aspek penting dalam jurnalisme. Kecepatan media dalam menyampaikan informasi tentang bencana alam, misalnya, akan membantu berbagai pihak mengkalkulasi reaksi-reaksi yang perlu dilaksanakan sesegera mungkin untuk mengatasi keadaan dan meringankan beban korban. Namun kecepatan itu menjadi tidak berguna, bahkan sebaliknya, menimbulkan keresahan masyarakat, jika yang disajikan media adalah informasi yang tidak akurat.

Mari kita simak kasus berikut ini. Sebuah stasiun televisi memberitakan bahwa awan panas letusan Gunung Merapi sudah mencapai Jalan Kaliurang Kilometer 6,2, Yogyakarta. Jika ini benar terjadi, korban dan kerusakan yang timbul tidak terbayangkan. Jalan Kaliurang Kilometer 6,2 merupakan wilayah permukiman padat penduduk yang tak jauh dari pusat keramaian Kota Yogyakarta. Semua pihak tahu betapa mengerikan daya rusak awan panas Merapi.“Untungnya”informasi di layar televisi itu salah, karena yang telah mencapai Jalan Kaliurang Kilometer 6,2 bukanlah sebaran awan panas, melainkan sebaran debu vulkanik. Debu vulkanik tidak menimbulkan efek mematikan seperti halnya awan panas. Namun informasi tentang awan panas ini telanjur menyebar dan menimbulkan kepanikan warga Yogyakarta serta para handai taulan di tempat lain.

Kecepatan dalam menyajikan informasi mutlak harus dibarengi dengan kepastian bahwa informasi tersebut akurat dan teruji. Namun problem akurasi informasi yang merugikan masyarakat ini sudah sering terjadi. Sebuah stasiun televisi pernah memberitakan Gesang meninggal ketika sang penggubah lagu Bengawan Solo ini masih dirawat di rumah sakit dan baru meninggal dua hari kemudian. Dalam kerusuhan Tanjung Priok beberapa bulan lalu, stasiun televisi belum-belum telah mengumumkan dua orang mati teraniaya, masing-masing dari massa pendukung Mbah Priok dan anggota Satpol PP. Padahal kejelasan tentang jumlah dan identitas korban kerusuhan ini baru dapat dipastikan sembilan jam kemudian. Stasiun televisi biasanya segera meralat kesalahan seperti ini. Namun informasi yang tersebar telanjur menimbulkan kebingungan atau keresahan publik.

Dalam konteks bencana kemanusiaan, sesungguhnya media mempunyai kontribusi besar dalam menyebarkan informasi dan menggalang solidaritas kemanusiaan. Inisiatif media dalam memberitakan bencana-bencana yang terjadi selalu lebih maju dan dapat diandalkan daripada respons pihak-pihak berwenang. Dari media, masyarakat mengetahui fakta-fakta yang sulit didapatkan dari keterangan resmi pemerintah. Sekadar contoh, publik tahun lalu mengetahui terjadinya kelaparan di Papua dari pemberitaan media karena pemerintah selalu mengatakan bahwa yang terjadi di sana bukan kelaparan, melainkan gizi buruk atau krisis pangan.

Namun dorongan untuk merespons bencana secepat mungkin sering menstimulasi para jurnalis untuk terlibat dalam heroisme yang berlebihan dan tidak perlu. Beberapa kru televisi dikabarkan nekat menerobos zona bahaya Merapi untuk merekam kehancuran desa-desa di lereng Merapi.
Beberapa jurnalis juga nekat menyeberang ke Pulau Mentawai meskipun cuaca sedang buruk dan diprediksi bakal terjadi badai. Tewasnya wartawan Vivanews saat meliput letusan Merapi seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa keselamatan jiwa jurnalis harus diprioritaskan daripada dorongan untuk mendapatkan liputan yang eksklusif.

Media juga sering teledor dalam memeriksa akurasi informasi yang hendak disampaikan kepada publik sebagaimana dijelaskan di atas. Lebih dari itu, media juga kurang sensitif terhadap dampak negatif pemberitaan. Ekspos berlebihan dan penuh dramatisasi atas desa-desa yang porak-poranda di lereng Merapi, selain dapat menimbulkan simpati publik di berbagai tempat, berdampak memperdalam kesedihan dan trauma warga yang sedang mengungsi. Liputan televisi mendorong beberapa pengungsi nekat kembali ke rumah guna menyelamatkan hewan ternak dan harta benda yang lain. Televisi, yang seharusnya menghibur dan meringankan beban korban bencana alam, justru dapat menciptakan kepanikan, bahkan memicu kemarahan. Hal ini, misalnya, terjadi ketika program nonberita televisi mengeksploitasi sisi-sisi mistik Gunung Merapi, dibumbui dengan pernyataan yang bombastis, seperti,“Yogya Kota Malapetaka”, dan “Yogya Akan Rata dengan Tanah”. Tayangan ini menimbulkan kemarahan sebagian warga Yogyakarta, sekaligus memunculkan pertanyaan, benarkah stasiun televisi solider terhadap korban bencana alam? Ataukah solidaritas itu sebenarnya berkelindan dengan matra komodifikasi, hasrat untuk mengeksploitasi bencana alam sekaligus keingintahuan publik terhadap situasi di wilayah bencana?

Berita tentang bencana alam memang menarik perhatian publik dan berpotensi menghasilkan tingkat kepemirsaan yang tinggi. Wajar jika media televisi berpacu menyajikan data dan informasi yang paling aktual, eksklusif, dan dramatis. Bukan kesalahan jika media televisi berusaha menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita bencana alam. Kesalahan baru terjadi jika, demi mengejar rating, stasiun televisi menjadi tak peduli terhadap pemirsanya, menjadi lupa bahwa yang diharapkan publik dalam situasi darurat seperti sekarang ini bukanlah sikap instrumentalistik media sebagai institusi bisnis, melainkan altruisme media sebagai institusi sosial: menyajikan informasi yang akurat dan relevan, menggelorakan solidaritas sosial, dan memberikan rasa nyaman dan hiburan bagi para korban. ●

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/11/19/ArticleHtmls/19_11_2010_011_007.shtml

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *