Pengembangan Desa Mandiri Energi Dinilai Gagal

MEDIA INDONESIA, Minggu, 30 Mei 2010 13:10 WIB

Penulis : Bagus Suryo

MALANG–MI: Pengembangan budidaya tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) melalui model Desa Mandiri Energi yang pernah dilakukan pemerintah pada 2006 dianggap gagal.

Petani tidak berminat mengembangkan tanaman yang menjadi bahan baku energi alternatif itu karena pasar belum terbentuk secara nyata.

Demikian diungkapkan Rully Dyah Purwati, peneliti jarak pagar dari Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Seret (Balittas) di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dalam acara kepelatihan tentang jarak pagar oleh Aliansi Jurnalis Independen Kota Malang di Pasuruan, Sabtu (29/5).

Ia menjelaskan krisis energi yang melanda dunia memaksa berbagai negara untuk mencari sumber energi alternatif terbarukan, diantaranya jarak pagar untuk bahan baku biodesel dan pengganti minyak tanah.

Pemerintah sudah menyiapkan payung hukum, sumber dana, dan perangkat pelaksananya. Namun pengembangan tanaman jarak pagar masih belum mencapai target yang diharapkan.

Kendati sudah ditemukan bibit tanam IP-3 berpotensi produksi 8-10 ton per hektare (Ha) lahan beserta teknologi budidayanya, tetapi masih terjadi kendala di tingkat petani karena produktivitas hanya kurang 1 ton biji per ha lahan per tahun.

“Awalnya menanam jarak pagar terbayang mudah. Tetapi setelah dibudidayakan ternyata untuk berbuah butuh proses,” ujarnya.

Minat petani semakin ciut setelah harga biji jarak pagar rendah hanya Rp1.000 per kilogram (Kg). Sehingga usaha tani komoditas ini kurang diminati petani. “Harga ideal biji jarak pagar minimal Rp2 ribu agar petani bisa diuntungkan,” katanya.

Bahkan pengembangan dengan model desa mandiri energi yang diharapkan mampu memproduksi biji jarak pagar, kemudian mengolahnya menjadi minyak, dan menggunakannya untuk kepentingan sendiri, dinilai gagal.

Padalah program yang diterapkan sejak 2006 itu sudah menanam 6.746 ha kebun jarak pagar tersebar di 27 provinsi dan 609 ha kebun induk, 36 unit pengelola hasil, dan 380 buah kompor. Namun demikian pengembangan model itu belum berjalan baik.

Ia menjelaskan sejumlah kendala yang dihadapi selama ini karena tidak adanya lembaga penyalur input dan output, minat petani rendah, belum terbentuk kelembagaan yang menangani desa mandiri energi, ketidaksiapan teknologi pemanfaatan jarak pagar sebagai sumber energi, serta pasar yang belum terbentuk secara nyata.

Dampaknya yang dirasakan sekarang adalah petani merasa dibohongi. Sebab ketika pemerintah gencar kampanye budidaya jarak pagar, dan banyak yang sudah menanam komoditas itu, kemudian pasarnya tidak jelas.

Dosen Fakultas Teknik Pertanian Universitas Brawijaya Bambang Susilo mengatakan tanaman jarak pagar potensial dikembangkan untuk bahan baku biodesel, bahan bakar pengganti solar.

Ia menjelaskan roadmap biodesel 2005-2010 pemanfaatan 2 persen biodesel dari konsumsi diesel 720.000 KL, pada 2011-2015 penggunaan 3 persen biodesel dari konsumsi 1,5 juta KL, dan pada 2016-2025 penggunaan 5 persen dari konsumsi disesel 4,7 juta KL.(BN/OL-02)

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/30/145863/23/2/Pengembangan-Desa-Mandiri-Energi-Dinilai-Gagal

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *