Pasokan Energi Terancam Krisis

RADAR BROMO, Senin, 31 Mei 2010

10 Tahun Lagi Capai Puncak

PRIGEN – Saat ini dunia sedang dihadapkan pada ancaman krisis energi yang cukup serius. Karena itu, mencari energi alternatif menggantikan energi fosil yang selama ini berlaku menjadi kebutuhan mendesak.

Kenyataan itu disampaikan pakar bioenergi Bambang Susilo saat menjadi pembicara pada kegiatan peningkatan kapasitas jurnalis di Inna Tretes Hotel, akhir pekan lalu. “Mau tidak mau, ini harus segera dilakukan,” katanya pada kegiatan yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang itu.

Bambang menyatakan, saat ini kebutuhan energi terus meningkat. Kondisi itu mengakibatkan ketersediaan pasokan energi yang selama ini bersumber pada bahan fosil diambang krisis.

Ia menyebutkan, setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya krisis tersebut. Selain pasokan energi fosil yang terbatas, juga karena meningkatnya kebutuhan manusia akan energi. Baik untuk aktivitas ekonomi, maupun sosial. Termasuk di Indonesia.

Bahkan menurut Bambang, ancaman krisis energi itu akan mengalami puncaknya pada 10 tahun mendatang. “Dalam 10 tahun mendatang. Cadangan energi kita sudah betul-betul menipis,” katanya menjelaskan.

Karena itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Di antaranya, mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Kemudian, meningkatkan pemakaian energi alternatif dari bahan-bahan terbarukan. Misalnya, biodiesel yang diolah dari biji jarak pagar.

Sementara itu penjelasan serupa disampaikan Rully Dyah Purwati, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serta (Balittas) Malang. Menurutnya, tanaman biji jarak merupakan salah satu komoditas pertanian yang telah ditetapkan sebagai salah satu sumber energi alternatif.

“Payung hukum, sumber dana serta perangkat pelaksana telah dibuat oleh pemerintah,” kata Rully. Meski begitu, sejauh ini produksi tanaman biji jarak masih jauh dari harapan. Pasalnya, dari taget produksi 8-10 ton per hektar setiap tahunnya, sejauh ini rata-rata baru terealisir 1 ton.

Karena itu kata Rully, selain peningkatan kapasitas di kalangan petani, penggalakan kampanye tentang penananaman jarak pagar juga mutlak dilakukan. Terlebih, kadar minyak yang dihasilkan biji jarak cukup tinggi. Yakni, sekitar 40 persen. (aad/hn)

Rencana Bangun Industri Biodiesel

Selain para pakar biodiesel, kegiatan yang berlangsung selama sehari itu juga menghadirkan sejumlah nara sumber. Di antaranya, PT. Alegria Indonesia. Salah satu perusahaan penghasil biodiesel asal Jepang dan Pemkab Pasuruan yang diwakili Ketua Komisi B DRPD setempat Joko Cahyono.

Dalam kesempatan itu, Joko juga menegaskan komitmen pemkab untuk mendukung upaya penyediaan bahan baku energi alternatif melalui biji jarak. Bahkan, saat ini dari total 6.000 hektar lahan yang akan disediakan, 1.200 di antaranya telah ditanami jarak pagar.

“Ini kami lakukan secara bertahap. Sampai akhirnya target luasan lahan yang kami harapkan benar-benar tercapai,” katanya dalam acara yang diikuti oleh puluhan jurnalis itu.

Joko menyatakan, setidaknya ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari program ini. Selain penyediaan bahan baku energi alternatif biodiesel, juga tereklamasinya lahan kritis yang ada di Kabupaten Pasuruan.

Pasalnya, hingga saat ini sekitar 40 ribu hektar lahan di wilayah ini dalam kondisi kritis. Terlebih, upaya reklamasi yang dilakukan pemkab terbatasi oleh kemampuan anggaran.

Karena itu, program penanaman biji jarak yang melibatkan PT. Alegria Indonesia dinilai sebagai hal positif. “Sebab selain sisi ekologis, ada sisi ekonomis yang bisa kita manfaatkan,” terangnya.

Yakni, jaminan dari PT. Algeria untuk membeli komoditas biji jarak yang dihasilkan dari ribuan hektar lahan tersebut. Karena itu, dirinya juga berharap upaya penanaman biji jarak tersebut membawa pengaruh pada peningkatan kesejahteraan para petani.

Sementara itu penjelasan serupa disampaikan CEO PT. Alegria Indonesia Mr. Nakamura San. Menurutnya, krisis pasokan energi kini menjadi persoalan serius. Termasuk di negerinya. Karena itu, upaya mencari energi terbarukan menjadi kebutuhan yang mendesak.

Salah satunya, melalui biji jarak tersebut. Kebutuhan ini pula yang saat ini ia awali dengan melakukan penanaman jarak pagar di atas ribuan hektar lahan kritis yang ada di kabupaten. Ke depan, program penanaman biji jarak ini terus berlanjut hingga mencukupi kebutuhan industri biodiesel satu juta liter per tahun. “Karena itu, suskesnya program ini juga akan diikuti dengan pembangunan industri biodiesel di Pasuruan,” terangnya. (aad/hn)

http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=161560

http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=161559

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *