Jurnalis Hongkong Protes Kekerasan Aparat

KOMPAS, Selasa, 8 September 2009

Penyebar Kabar Bohong Diancam Hukuman Berat

Hongkong, Senin – Sekitar 40 jurnalis Hongkong, Senin (7/9), menggelar aksi protes setelah tersiar kabar bahwa terjadi aksi pemukulan dan penahanan terhadap sejumlah wartawan yang meliput kerusuhan etnis di provinsi barat China, Xinjiang. Aksi protes jurnalis seperti ini boleh dibilang jarang terjadi di China.

Belasan wartawan Hongkong ini berkerumun di gerbang kantor penghubung Pemerintah China di Hongkong seraya menyanyikan slogan, ”Kekerasan terhadap wartawan itu tindakan tak terpuji.”

Tak seperti halnya di belahan lain di China, bekas koloni Inggris ini memang masih menjanjikan kebebasan hak-hak sipil serta menjadi tempat berkembangnya industri media. Selain dikenal ”agresif” terhadap sejumlah kebijakan China, media pers Hongkong juga menyajikan liputan yang relatif tanpa sensor.

Para pemrotes ini menuduh Pemerintah China ”memberangus jurnalis-jurnalis Hongkong” dalam beberapa hari terakhir ini. Seorang penyiar TVB Hongkong menuturkan, polisi militer di kota di provinsi China barat, Urumqi, hari Jumat (4/9) mendorong dengan kasar salah seorang wartawan mereka sampai terjatuh, menendanginya, serta memukuli wartawan tersebut. Aparat, menurut laporan itu, bahkan juga mengikat sang wartawan.

Sementara itu, Radio RTHK memberitakan, polisi Urumqi, ibu kota Provinsi Xinjiang, menahan dua jurnalisnya dan tiga wartawan Hongkong lainnya hari Minggu. Penahanan itu berlangsung selama sekitar setengah jam dan akhirnya polisi melepas mereka dengan mengatakan bahwa aksi penahanan itu semata karena ”kesalahpahaman”.

Serangan jarum suntik

Para wartawan itu tengah meliput aksi protes oleh massa etnis Han di Urumqi, setelah terjadi serangkaian serangan dengan jarum suntik. Pemerintah China menuduh aksi serangan jarum suntik itu dilakukan kelompok separatis Muslim Uighur.

Meski tak separah kerusuhan Juli lalu, menewaskan 200 orang yang sebagian besar dari etnis Han, kerusuhan pekan lalu itu telah memakan korban 5 tewas dan 21 orang ditangkap.

Kantor berita China, Xinhua, memberitakan, Minggu (6/9), bahwa otoritas Urumqi menyatakan, bagi siapa saja yang kedapatan bersalah menyuntik orang lain dengan zat berbahaya, ia bisa terancam hukuman berat dengan masa penahanan lama, bahkan bisa jadi hukum mati.

Tak hanya itu. Otoritas juga mengancam bahwa mereka yang menyebarkan kabar bohong tentang warga tak berdosa yang ditusuk jarum suntik berbahaya bisa diadili dan dihukum setinggi-tingginya lima tahun.

Sampai hari Senin, menurut Xinhua, polisi Xinjiang telah menahan 25 tersangka penyerangan dengan jarum suntik.

Menurut jaksa penuntut umum di Urumqi, dua di antara tersangka bakal diadili lantaran menusuk sopir taksi dengan jarum suntik berisi heroin, guna mencuri uang si sopir senilai 710 yuan (Rp 1 juta lebih).

Sekitar 100 orang mengadu karena diserang dengan jarum suntik. Masih diperiksa lebih lanjut, apakah mereka yang terserang jarum suntik itu tertular virus HIV, hepatitis, ataupun penyakit-penyakit seksual.

Aksi protes massa etnis Han yang terjadi hari Minggu itu menuntut agar Sekjen Partai Komunis Provinsi Xinjiang, yang dinilai bertanggung jawab terhadap keamanan wilayah, turun jabatan.

Akan tetapi, Sekjen Wang Lequan yang sudah 15 tahun menjabat posisi tertinggi partai di provinsi itu tampaknya akan ”selamat” meneruskan jabatannya. Wang, yang dikenal bertangan besi, dinilai masih diperlukan untuk menjaga wilayah yang rawan keamanan ini.

Aksi kerusuhan sejak tiga hari lalu itu, menurut Wang, dipicu oleh peristiwa ketika seorang wanita etnis Han diserang empat orang dengan jarum suntik di sebuah pusat perbelanjaan di Urumqi. (AFP/Xinhua/sha)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/08/03405276/jurnalis.hongkong.protes.kekerasan.aparat

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *