Masyarakat Pers Tolak Rancangan Undang-Undang Perfilman

KORAN TEMPO, Jum’at, 04 September 2009 12:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) menolak Rancangan Undang-Undang Perfilman yang saat ini sedang dibahas Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka menilai isi rancangan undang-undang tersebut otoriter.

“RUU ini tidak diperlukan,” kata Koordinator Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia Kukuh Sanyoto di Gedung DPR, Jumat (4/9).

Dewan Perwakilan Rakyat rencananya mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perfilman 8 September mendatang. Padahal, kata Kukuh, pembahasan tak pernah melibatkan masyarakat. Akibatnya sejumlah materi dalam rancangan undang-undang tersebut dinilai menabrak prinsip demokrasi dan kebebasan berekspresi. “Mengkriminalisasi perfilman,” kata Kukuh.

Sejumlah materi dalam rancangan undang-undang tersebut dianggap mengebiri kebebasan berekspresi para sineas. Antara lain masih diberlakukannya sensor, tak jelasnya klasifikasi film, diperlukannya izin untuk usaha perfilman, serta kewajiban mendaftar film yang dibuat. “Intervensi pemerintah terlalu jauh,” kata Kukuh.

Selain itu, rancangan undang-undang ini juga dianggap memuat pasal karet. Pasal 6 dalam draf rancangan undang-undang tersebut berisi larangan bagi film yang memuat kekerasan, pornografi, provokasi antar-kelompok masyarakat, menistakan agama, merendahkan hak martabat manusia.

Rancangan undang-undang ini juga dianggap memberi keleluasaan bagi pemerintah mengintervensi dunia perfilman dengan membuka ruang dibentuknya peraturan lebih lanjut berupa peraturan pemerintah atau peraturan menteri.

Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara mengatakan pengesahan Rancangan Undang-Undang Perfilman bisa membunuh dunia perfilman nasional yang saat ini sedang bangkit. “Kalau RUU ini dibiarkan kita akan kembali ke rezim orde baru,” kata Leo. Padahal, Leo melanjutkan, dunia perfilman semestinya didukung untuk menjadi tuan di negeri sendiri. DWI RIYANTO AGUSTIAR

http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/09/04/brk,20090904-196238,id.html

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *