Massa FPI Geruduk Kantor Jawa Pos

KORAN TEMPO, Kamis, 3 September 2009

Pengunjuk rasa, sebagian besar memakai atribut putih-hitam bersimbol Front Pembela Islam (FPI), mendesak pemilik Grup Jawa Pos, Dahlan Iskan, meminta maaf kepada umat Islam dan bangsa Indonesia.

SURABAYA — Sekitar 150 orang yang mengaku anggota Front Anti Komunis mendatangi kantor redaksi Jawa Pos di gedung Graha Pena, Surabaya, kemarin. Pengunjuk rasa, sebagian besar memakai atribut putih-hitam bersimbol Front Pembela Islam (FPI), mendesak pemilik Grup Jawa Pos, Dahlan Iskan, meminta maaf kepada umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Dahlan Iskan menulis opini sepihak dari Soemarsono,” kata Muhammad Ibrohim, Ketua Gerakan Nasional Patriot Indonesia Jawa Timur, yang juga koordinator aksi. “Padahal kita tahu, Soemarsono itu mantan gubernurnya PKI (Partai Komunis Indonesia).”

Ketua Front Pembela Islam Jawa Timur, Moch. Haidar, mengatakan Jawa Pos telah mengebiri kepentingan umat Islam dengan menurunkan tulisan mengenai pemikiran Soemarsono. “Karena itu, Dahlan harus meminta maaf,” kata dia.

Saat unjuk rasa, massa membentangkan berbagai spanduk, antara lain bertulisan “Soemarsono PKI”. Massa juga membakar koran Jawa Pos dan buku Revolusi Agustus yang ditulis Soemarsono.

Dahlan membuat tulisan berjudul “Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya”. Tulisan dimuat secara berseri di harian Jawa Pos berdasarkan hasil wawancara dengan Soemarsono, yang kini bermukim di Sydney, Australia.

Dalam tulisannya, Dahlan menyebut Soemarsono sebagai tokoh utama pertempuran Surabaya (1945) yang masih hidup. Dia dianggap berjasa menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Disebutkan pula, Soemarsono adalah tokoh utama Peristiwa Madiun 1948. Jabatannya dalam struktur pemerintahan yang dipimpin Muso dan Amir Syarifudin itu adalah gubernur militer.

Selain mengutuk tulisan Jawa Pos, para demonstran menyayangkan upaya Dahlan mendatangkan Soemarsono ke Indonesia. Mereka pun tidak bisa menerima upaya Dahlan mengantarkan Soemarsono ke daerah Takeran, Madiun, untuk meminta maaf kepada para korban konflik 1948. Sebagian anggota keluarga Dahlan juga korban peristiwa berdarah itu.

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustia dan Ketua Dewan Redaksi Muhammad Elman menolak meminta maaf sebagaimana dituntut oleh pengunjuk rasa. Jawa Pos memilih menyediakan halaman khusus untuk menampilkan pendapat koordinator aksi. “Silakan saja, kami akan wawancara tokohnya agar berimbang,” kata Leak. Rohman Taufiq

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/03/headline/krn.20090903.175730.id.html

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *