Junus Jahja dan Semangat Pembauran

KOMPAS, Kamis, 20 Agustus 2009 03:56 WIB

Dwi As Setianingsih

Dimaki bagai kacang yang lupa pada kulitnya dan dituduh sebagai pengkhianat bagi kaum Tionghoa, tak membuat langkah Junus Jahja menyebarkan semangat pembauran surut ke belakang. Baginya, nasionalisme adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pergulatan Junus Jahja meretas jalan pembauran di kalangan masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia tak pernah berhenti. Pada usianya yang kini mencapai 82 tahun, Junus tetap tak bisa duduk diam.

Sebuah buku, Catatan Orang Indonesia, kembali lahir darinya. Buku setebal 160 halaman yang diterbitkan Komunitas Bambu itu merupakan kumpulan tulisan Junus tentang gagasannya mengenai pembauran dan proses keindonesiaan masyarakat Tionghoa peranakan di Indonesia.

Di antara rekan-rekannya yang hadir pada acara peluncuran bukunya, Rabu (19/8) di Jakarta, adalah Hari Tjan Silalahi, Kwik Kian Gie, Melly G Tan, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, dan Hudiani Sutikna (istri almarhum K Sindhunata).

Junus, yang bernama asli Lauw Chuan Tho, tampak bangga. Ini adalah saat yang paling membahagiakan baginya, setelah bertahun-tahun tak bisa sering bertemu fisik dengan teman-teman seperjuangannya.

”Saya bangga bisa bertemu teman-teman lama,” tutur Junus dengan suara lantang.

Meski duduk di atas kursi roda, suaranya yang lantang dan gaya bicaranya yang belak-belakan tak bisa menyembunyikan semangatnya yang menyala-nyala, terutama ketika ia berbicara tentang upaya membangun semangat keindonesiaan.

Menurut Junus, sebagai bangsa, sudah seharusnya Indonesia menghormati hari lahir Soempah Pemoeda yang jatuh tanggal 28 Oktober. Hal itu ditegaskan Junus dalam Catatan Orang Indonesia bahwa ”kita semua (bangsa Indonesia) sejak 1928 telah menjadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, tanpa mengkotak-kotakkan bangsa Indonesia berdasar garis kesukuan, kedaerahan maupun ras”.

Tentang upaya membangun semangat nasionalisme, utamanya di kalangan Tionghoa peranakan, Junus mengaku mendapat banyak dukungan dari rekan-rekannya, seperti K Sindhunata, Arifin Siregar, B Pasaribu, dan Hendro Priyanto, sehingga dia bisa memulainya dengan cara yang benar.

Junus memulainya dengan mempelajari bahasa Indonesia secara baik dan benar. ”Saya belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan bahasa Indonesia yang menyebut lu orang, you orang, dan kita orang,” kata Junus yang belajar bahasa Indonesia dari koran Asia Raya yang kemudian disempurnakan rekannya, Engku Anwar.

Dengan mempelajari bahasa Indonesia secara baik dan benar itu, Junus yakin, secara otomatis membuatnya mencintai Tanah Air, Indonesia.

Junus yang bergerilya menyebarkan semangat pembauran di kalangan Tionghoa peranakan sejak tahun 1959, saat masih menjadi mahasiswa di Rotterdam, Belanda, ini mengatakan, tak mudah bagi dirinya yang notabene seorang peranakan Tionghoa berjuang menanamkan semangat keindonesiaan.

”Saya dibilang kacang lupa kulitnya, dibilang pengkhianat di depan umum,” kenang Junus.

Tetapi, dia teguh. Baginya, mutlak bagi setiap Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia untuk mencintai Indonesia sebagai tanah airnya.

”Saya memang radikal. Saya melawan arus. Tetapi bagi saya, kalau mau hidup di sini, cari makan di sini, mau mati di sini, ya harus mencintai Indonesia. Enggak perlu lagi kita melihat ke Tiongkok,” tegas Junus yang memeluk agama Islam tahun 1979.

Seiring berjalannya waktu, jalan yang harus dilalui Junus untuk menyebarkan semangat pembaruan kian terbuka. Dia aktif dalam sejumlah yayasan Islam, di antaranya Muhammadiyah, mendirikan Yayasan Ukhuwah Islamiyah yang juga aktif menyebarkan Islam di berbagai kalangan.

Indonesia sejati

Di mata teman-teman seperjuangannya, Junus dikenal sebagai sosok yang total dalam memperjuangkan pembauran di Indonesia. Harry Tjan menyebut dia sebagai orang Indonesia sejati.

”Dengan jiwa dan raga, dia memilih menjadi Indonesia dan konsekuen menjalankan pilihannya,” kata Harry.

Ini termasuk meninggalkan segala sesuatu yang dia miliki, termasuk harta benda dan nilai-nilai yang dianutnya. Dia kemudian merangkak bersama rakyat biasa. Junus lahir dari pasangan Lauw Lok Soey dan Oey Ay Nio. Orangtuanya adalah pengusaha roti yang sukses.

Kwik Kian Gie, yang mengenal Junus sejak tahun 1956, mengatakan, Junus adalah sosok yang selalu total dalam menyelesaikan segala persoalan. Kwik juga melihat Junus sebagai sosok yang mau mempelajari apa saja agar menjadi lebih pintar.

”Istilah pembauran bagi Junus adalah living reality,” kata Kwik.

Tak heran jika dulu, pada masa mudanya, Junus pergi dari satu kafe ke kafe lain, ngobrol dengan orang-orang Belanda hingga hafal guyonan ala pelaut Rotterdam.

Junus kini mengisi hari tuanya dengan penuh semangat. Setiap pagi, setelah sarapan, dia berjemur di bawah sinar matahari sambil sesekali bercengkerama dengan tetangga sebelah rumah. Junus juga bermain dengan kedua cucunya, Reynara Zafiraldo Sujiwo (3) dan Qays Rafa Yahya Sujiwo (9 bulan). Cucu ini diberikan oleh anak semata wayang, Yuli Purwanti.

Junus tetap setia mengikuti perkembangan dunia dari televisi, majalah, dan surat kabar. Setiap hari, ada suster yang bertugas membacakan berita untuknya. Koran harus habis dibaca dalam satu hari, sedangkan majalah harus selesai dibaca dalam satu minggu.

Dia juga kerap kali minta dibacakan tulisan dari buku-buku karangannya. Untuk tayangan televisi, Junus bisa dibilang fanatik pada dua saluran, yakni Metro TV dan CNN.

Setelah melewati jalan panjang, Junus memang masih tidak puas dengan apa yang telah dilakukannya selama ini. Tetapi dia bisa berbangga hati, apa yang telah dirintisnya dengan susah payah selama bertahun-tahun relatif bisa diterima, dimengerti, dan berjalan cukup baik.

”Harapan saya, Indonesia harus maju. Tidak bisa tidak, negara yang begini kaya harus maju,” tandasnya.

Kepada generasi muda, Junus berpesan agar terus berjuang untuk menemukan keindonesiaan mereka dengan berbaur.

”Etnis Tionghoa harus tahu diri. Mereka harus bersyukur mendapat Tanah Air yang begitu cantik. Mereka, semua suku dan keturunan apa pun yang hidup di Indonesia, harus mau berbaur dan berjuang bersama untuk maju,” tegas Junus.

Biodata

• Nama: Junus Jahja

• Lahir: Jakarta, 22 April 1927

• Istri: Tjitjih Rukaesih

• Anak: Yuli Purwanti

• Pendidikan: Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam, Belanda, 1956

• Penghargaan: Bintang Mahaputera Utama

• Karier antara lain:

– Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei
– Kepala Perwakilan Bank Jerman
– Direktur Lembaga Pengkajian Masalah Pembauran
– Pendiri Yayasan Ukhuwah Islamiyah

• Beberapa karya buku:

– Garis Rasial Garis Usang
– Catatan Seorang WNI
– Nonpri di mata Pribumi
– Islam di mata WNI
– Peranakan Idealis

Foto oleh: Dwi As Setianingsih

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/20/03563569/.junus.jahja.dan.semangat.pembauran

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *