REFORMASI DIGITAL: Tak Ada yang Bisa Mengelak Lagi


KOMPAS, Selasa, 14 Juli 2009 05:08 WIB

Oleh Taufik H Mihardja

Ini waktu yang sangat menarik dan kita beruntung berada di dalamnya. Begitu keras situasi hari ini sehingga tidak ada jalan lain bagi kita untuk selalu berpikir keras, berkreasi, berinovasi, supaya kita tidak lekas mati.

Begitu pesan dari Newsroom Summit Asia yang berlangsung dua hari di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 7-9 Juli 2009. Diskusi yang menghadirkan para pemimpin redaksi, CEO media massa, dan para pengembang teknologi media massa itu memberikan gambaran yang makin jelas bahwa kita berada pada zaman ”pergolakan antara emosi dan nalar”.

Di satu sisi, kita tidak bisa menerima surutnya tradisi membaca melalui media kertas yang telah berjalan sejak ditemukannya mesin tik. Di sisi yang lain, kita juga tidak ingin menolak mentah-mentah hadirnya tradisi baru membaca melalui media digital yang serba cepat dan praktis itu. Maka, pilihan yang realistis adalah kita mengikuti zaman.

Kita sekarang praktis sudah memasuki keadaan di mana audiens bisa sekaligus berperan sebagai broadcaster, publisher, dan researcher. Kita berada di zaman everybody can be in the news melalui media koran yang sangat lokal, situs berita yang hiperlokal, dan melalui media blogging. Intinya, kita berada pada saat seorang consumer juga bisa menjadi produser.

Apa yang salah?

Apa yang salah dengan semua itu? Tidak ada yang salah karena kehadiran internet telah mendorong terciptanya situasi itu tadi, suka atau tidak suka. Ditambah dengan sebaran pemakaian telepon seluler, termasuk telepon pintar, yang begitu dahsyat dan bahkan kini telah menjelma menjadi salah satu kebutuhan dasar kita, maka penyebaran informasi atau berita tidak lagi harus selalu bergerak secara vertikal, tetapi juga horizontal, dari pembaca ke pembaca.
Karena itu, seorang penulis atau reporter tidak bisa lagi berpikiran bahwa dia lebih tahu daripada pembacanya. Sebab, pembaca hari ini bisa mendapatkan informasi begitu cepat melalui radio, televisi, dan melalui apa yang sekarang dikenal dengan istilah sosial media.

Facebook

Facebook merupakan salah satu bentuk sosial media yang begitu populer sehingga ia menempati posisi nomor satu menurut pemeringkat Alexa.com sebagai situs paling populer diakses di Indonesia, mengalahkan Google, Yahoo!, dan YouTube.

Dr Stephen Quinn, Associate Professor of Journalism, Deakin University, Australia, dalam diskusi di Kuala Lumpur itu bertanya kepada audiens, ”Apakah di antara Anda ada yang sudah memiliki akun Facebook? Twitter? Twitterdeck? Qik? Bambuster?”

Ia menyebut serangkaian nama media sosial lainnya yang jumlahnya sampai belasan. Tentu saja tidak semua orang mengenal semua nama media sosial yang disebut profesor itu, kecuali Facebook dan Twitter. Sebagian ada juga yang punya akun Twitterdeck.

Artinya, betapa banyak media yang bisa dipakai oleh siapa saja untuk melaporkan tentang apa saja, kapan saja, dari mana saja. Keterbatasan ruang dan waktu dibongkar habis. Selain informasi itu datang dari berbagai platform, penyajiannya juga sudah multimedia, tidak lagi hanya terbatas teks, foto, atau video secara sendiri-sendiri, tetapi sering merupakan gabungan dari ketiganya. Selain itu, interaktif pula. Inilah yang disebut dengan informasi bergerak secara horizontal tadi.

Aksi demonstrasi besar-besaran menentang hasil pemilu di Iran tetap saja bisa menjadi laporan utama koran-koran, majalah, dan jaringan televisi internasional meskipun wartawan asing diusir dari Teheran. Itu terjadi karena warga Iran melaporkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka lakukan, melalui Twitter yang kini makin hari makin terkenal, menyaingi Facebook.

Media massa arus utama, yakni koran, majalah, dan televisi tampaknya tidak bisa lagi meremehkan kehadiran apa yang kini dikenal dengan sebutan media baru itu. Secara emosional, kita bisa menyebut media baru adalah kompetitornya media arus utama. Namun, secara logika, media baru itu justru merupakan mitra media arus utama.

”Kekuatan media sosial ini memang kurang disadari oleh media arus utama,” kata Thomas Crampton, Direktur 360 Digital Influence Asia Pasifik, Ogilvy, Hongkong. Namun, menurut mantan wartawan The International Herald Tribune dan The New York Times itu, media massa belum terlambat untuk memanfaatkan kekuatan media sosial itu.

Wartawan

Seorang peserta pertemuan bertanya kepada Pemimpin Redaksi The Bangkok Post. Mengapa seorang wartawan boleh menjelaskan apa isi berita utama koran besok dalam acara di radio yang mengulas isi koran itu pada malam hari sebelum koran terbit.

”Mereka sudah mengetahui berita itu meski Anda tidak menjelaskannya. Mereka sudah tahu dari televisi, dari internet, dari mana-mana. Apa yang kami lakukan itu merupakan upaya kita untuk membangun trust. Ini penting untuk membangun brand,” kata Pichai Chuensuksawadi dari The Bangkok Post.

Pemimpin Redaksi The Strait Times, Singapura, Patrick Daniel, secara terus terang mengatakan, ia tidak begitu peduli dulu dengan penerapan konvergensi dan integrasi di kelompok penerbitannya. ”Yang penting kami manfaatkan dulu semua platform yang ada. Berbagai produk harus keluar dulu. Sebab, bagaimanapun kita tidak bisa sembunyi dari reformasi digital ini,” katanya.

Berbagai cara orang untuk mendapatkan informasi secara cepat terus dikembangkan. Kemasan juga semakin menarik, semakin multimedia. Maka ada semacam kesimpulan yang disepakati para peserta pertemuan dua hari itu bahwa kita harus ”lead the change, bukan let the change leads us”.

Siapa pun hari ini memang tidak bisa lagi mengelak dari arus reformasi digital. Siapa lebih cepat dan lebih siap memanfaatkannya, dialah yang akan meraih kesempatan.

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/14/05084524/tak.ada.yang.bisa.mengelak.lagi

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *