Mat Kodak di Balik Layar

TEMPO, 20/XXXVIII 06 Juli 2009

Bekerja di balik layar pemilihan presiden, para juru foto bertugas menguatkan citra para kandidat. Yang rileks dan yang grogi.

Mereka bukan tokoh yang tampil gemerlap di panggung pemilihan presiden. Para juru foto itu bekerja di ruang yang tak ingar: mengatur pencahayaan, menata sudut yang tepat, lalu pada akhirnya mencari ”penampakan” terbaik kandidat presiden dan wakil presiden.

Meski tak populer, bukan berarti karya para fotografer itu tak akrab dengan masyarakat. Hasil jepretan mereka bahkan memenuhi hampir semua sudut jalanan: dibentang pada spanduk, dibeber pada papan besar reklame, juga diusung pada poster-poster kampanye. Pada 8 Juli nanti, karya dari salah satu pemotret juga akan dicontreng para pemilih di kartu suara.

Bachren Lukskardinul dan Fajar Sitanggang merupakan pemotret foto pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto. Ardianto Damas dari perusahaan konsultan politik FoxIndonesia menangani foto Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Lalu Kay Moreno, pemilik studio Moreno&Co Photography, mengerjakan potret Jusuf Kalla-Wiranto.

“Ini pengalaman pertama saya memotret calon presiden,” kata Kay, 37 tahun, yang banyak mengerjakan foto pengantin. “Bangga juga karya kita terpampang di mana-mana, meskipun orang enggak tahu itu saya yang foto,” kata Damas, 31 tahun.

POSTER pasangan Kalla-Wiranto lengkap dengan nomor 3 segera dibentangkan di Komisi Pemilihan Umum, 30 Mei lalu. Aksi ini menarik perhatian, sebab undian nomor urut calon presiden baru saja dilakukan. Calon lain belum siap dengan poster, kandidat dari Partai Golkar dan Hanura itu justru telah mengusung-usungnya. Rupanya, tim sukses mereka menyiapkan tiga skenario poster dengan nomor urut 1, 2, dan 3.

Sesuai dengan slogannya, ”Lebih Cepat Lebih Baik”, pasangan ini gegas menyiapkan segalanya. Di antaranya pemotretan, yang dikerjakan jauh sebelum pengundian itu. Pengambilan gambar itu bahkan dilakukan sepekan sebelum pasangan ini dideklarasikan di Tugu Proklamasi, 10 Mei lalu.

Buat memotret Kalla-Wiranto, Kay Moreno dihubungi Solihin Kalla, putra sang calon presiden. Kay mengatakan hanya punya dua hari untuk bersiap. Padahal, untuk pengerjaan foto iklan atau pre-wedding, perlu banyak waktu buat membahas konsep, busana, juga lokasi. ”Begitu dihubungi Pak Solihin, saya segera memobilisasi sumber daya: asisten, layar, lampu, sampai background,” tuturnya.

Pemotretan dilakukan di rumah dinas Wakil Presiden, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Kesulitan pertama: mengatasi sikap Jusuf Kalla yang tak akrab dengan kamera. Berbeda dengan Wiranto yang tak masalah dipotret—bahkan paham sudut yang membuat senyumnya terlihat menarik—Kalla susah tersenyum di depan Kay. Akhirnya, anak dan cucu dikerahkan buat memancing senyum sang calon presiden.

Perlu seperempat jam untuk membuat mood Kalla bagus. Tapi, menurut Kay, itu wajar. ”Model pun perlu pemanasan untuk pemotretan, apalagi pejabat,” ujar Kay, yang menggunakan Canon DS Mark III dan lensa 85 mm. ”Dalam pemotretan, kami mengenal satu roll pertama harus dibuang.”

Kalla dan Wiranto dipotret dalam beberapa pose. Sesi pertama berbaju polos putih, baik sendiri-sendiri maupun bareng. Kemudian batik, berjas tanpa songkok, lalu berjas dengan songkok. Karena lebih pendek dibanding wakilnya, Kalla diganjal ketika berpose bersama Wiranto. Dimulai pukul 09.00, pemotretan usai tengah hari. Kalla dan Wiranto lalu mengajak Kay makan siang bersama-sama.

Tugas Kay selanjutnya: memilih dan menyajikan foto terbaik. Karena kumis Kalla tak rata, ia memolesnya di komputer melalui program Photoshop. Ia juga menghapus garis-garis tanda usia di wajah Kalla dan Wiranto. Hasilnya, wajah pasangan ini pada foto-foto yang dipajang di aneka papan reklame tampak lebih muda.

Memotret calon presiden juga pengalaman pertama Ardianto Damas. Bergabung dengan Fox pada Februari tahun lalu, ia diminta perusahaan pimpinan Choel Mallarangeng itu memotret Yudhoyono-Boediono. Pemotretan dilakukan di Puri Cikeas, kediaman pribadi Yudhoyono. Ia diminta bosnya berpakaian rapi. Ia lantas memakai baju batik dan celana kain pinjaman dari office boy kantor, dan sepatu pantofel pinjaman teman. ”Saya dikira mau kondangan,” katanya.

Ditemani Ryan, fotografer lain, serta dua juru kamera, seorang manajer proyek, dan Choel Mallarangeng, Damas sempat panik pada awalnya. Tapi sang istri selalu mengingatkan bahwa ”Presiden juga manusia”.

Hari itu Yudhoyono mengenakan safari biru. Tiga lampu dinyalakan, kamera siap, tapi sang calon tampak kaku. Lalu Choel, Ani Yudhoyono, dan juru foto Istana, Abror Rizki, memancing tawa Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu. ”Ingat Aira, Pak,” kata Ani menyebut cucu pertama mereka.

Damas juga memakai Canon 1 Ds Mark III dengan lensa 70/100 mm, 24/70 mm, dan 18/35 mm. Pemotretan berikutnya dilakukan untuk kertas suara dan iklan cetak. Ada sembilan sesi pemotretan selama setengah jam: SBY tersenyum, SBY tidak tersenyum, SBY berpeci, Boediono tersenyum, tidak tersenyum, berpeci, lalu SBY-Boediono tersenyum, tidak tersenyum, serta mereka memakai dasi merah. Memotret Boediono juga tak kalah sulitnya karena ekonom itu tak mudah tersenyum. Untuk itu, Abror banyak membantu. Ia acap berteriak, ”Basahi bibir, Pak.” Boediono tersenyum, dan Damas langsung mencuri momen ini.

Selain memotret, Damas mengedit foto yang hendak dipakai di kertas suara. Foto itulah yang terpampang di kertas suara, spanduk, baliho, dan poster untuk pasangan nomor urut dua itu.

Berbeda dengan dua pasangan lain, Megawati-Prabowo tak pernah dipotret bareng. Foto berdua yang tampak di poster dan aneka keperluan kampanye merupakan hasil rekayasa digital. Pemotretan Prabowo dilakukan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, sehari setelah pengundian di Komisi Pemilihan Umum.

Ketika itu, Prabowo baru usai menghadiri acara di Metro TV dan bersiap ke TV One. ”Prabowo sempat ganti baju dan makan,” kata Bachren Lukskardinul, yang memakai Nikon D300, lensa 80/200 mm. Untuk penyinaran, dipakai dua lampu dengan backdrop putih. Sesi foto berlangsung cepat, hanya 10 menit. Dari empat yang disediakan, Prabowo hanya mencoba satu pakaian.

Setelah memotret 10 frame pertama, Bachren menunjukkan hasilnya kepada Prabowo. Calon wakil presiden itu bertanya, lebih baik tersenyum atau tidak. ”Saya jelaskan, di foto SBY, JK, Mega tersenyum semua,” kata Bachren. Prabowo pun memutuskan tersenyum.

Bachren sudah setahun lebih bergabung dengan Prabowo. Mulanya pada 2004, ketika majalah Matra tempatnya bekerja mewawancarai purnawirawan jenderal bintang tiga ini. Prabowo suka dengan hasil jepretan Bachren, jadilah ia direkrut.

Fajar Sitanggang, fotografer Megawati, mengatakan dua tokoh itu tak pernah difoto bareng. Alasannya, mereka sangat sibuk. Fajar lama bekerja sebagai fotografer yang mendokumentasikan kegiatan keluarga besar Megawati. Jadi, ketika Mega menjadi calon presiden, ia langsung terlibat.

Hampir mirip dengan Bachren, Fajar menggunakan cara alamiah. ”Saya foto natural saja. Bisa dibilang saya mendokumentasikan seluruh kegiatan Ibu Mega,” katanya.

Rabu pekan ini, karya salah satu fotografer itu akan dicontreng. Namun mereka tetaplah orang di belakang layar, yang bekerja di kamar gelap. Budi Setyarso, Amandra Mustika Megarani

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/06/NAS/mbm.20090706.NAS130782.id.html

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *