TNI AL Ajak Wartawan Kalau Ambalat Tak Memanas

KORAN TEMPO, Sabtu, 13 Juni 2009

NUNUKAN — Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Letnan Kolonel Djatmoko, membantah jika dikatakan melarang para wartawan mengikuti kunjungan para pejabat Nunukan menggunakan KRI Sulta Nuku ke perairan Ambang Batas Laut atau Ambalat kemarin.

“Kalau situasinya tak memanas, kami tak masalah (mengajak wartawan),” kata Djatmoko kepada Tempo kemarin. Dia meminta agar wartawan mengerti kondisi yang dihadapi TNI AL untuk menjalankan tugasnya.

Memang, kata dia, TNI AL membatasi publikasi menyangkut sengketa Ambalat. Alasannya agar tidak menambah panas yang berujung pada keresahan masyarakat. “Kondisi saat ini belum memungkinkan wartawan ikut KRI, apalagi mengekspos kepada publik soal Ambalat,” ujar Djatmoko.

“Kami saat ini cooling down, supaya konfliknya tidak tambah memanas. Kami khawatir masyarakat menjadi resah,” katanya. Djatmoko menambahkan, “Bukan kami tak ingin melibatkan wartawan, tapi jangan sampai konflik Ambalat justru tambah memanas, akhirnya meresahkan masyarakat.”

Sehari sebelumnya, Djatmoko mengatakan tidak memperbolehkan wartawan dalam peninjauan Ambalat karena telah mendapat perintah dari atasannya di Markas Besar TNI Angkatan Laut, Jakarta. “Kami mendapat instruksi dari Mabes AL membatasi wartawan ikut KRI,” ujarnya (Koran Tempo, 12 Juni).

Kemarin pukul 08.00 WIT, para pejabat Nunukan bertolak dari Pelabuhan Tunon Taka ke Ambalat. Kunjungan ini tetap tak menyertakan wartawan. Wartawan yang telah menunggu sejak pagi hanya bisa mengambil gambar dari dermaga pelabuhan.

Mereka kecewa karena sebelumnya diajak Humas Kabupaten Nunukan. “Tak boleh ikut,” kata Albertus, wartawan televisi swasta, dengan nada kecewa. Hari Himawan, wartawan televisi nasional, menyatakan akan memikirkan ulang bila diundang TNI Angkatan Laut kalau kondisi di Ambalat sudah tak memanas.

Menurut dia, keinginan wartawan ikut pejabat Kabupaten Nunukan justru karena Ambalat memiliki nilai berita, yaitu konflik antara Indonesia dan Malaysia. “Kalau sudah reda, di mana nilai beritanya? Apa yang mau diliput?” kata Hari kepada Tempo. Sebagian besar wartawan yang kecewa akhirnya memutuskan kembali ke Balikpapan. FIRMAN HIDAYAT

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/13/Nusa/krn.20090613.168032.id.html

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *