TNI AL Tak Sertakan Wartawan Tinjau Ambalat

KORAN TEMPO, Jumat, 12 Juni 2009

NUNUKAN — Peninjauan para pejabat Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, ke Ambang Batas Laut atau Ambalat menggunakan kapal TNI Angkatan Laut KRI Nuku hari ini tidak mengikutsertakan wartawan.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut di Nunukan, Letnan Kolonel Laut Djatmoko, beralasan tidak diperbolehkannya wartawan dalam peninjauan itu karena telah mendapat perintah dari atasannya di Markas Besar TNI Angkatan Laut, Jakarta.

“Kalau ada izin dari Markas Besar AL saya tak masalah,” kata Djatmoko kepada Tempo melalui telepon seluler kemarin. “Kami mendapat instruksi dari Mabes AL membatasi wartawan ikut KRI,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas Kabupaten Nunukan M. Jafar mengatakan sebenarnya sejak awal pihaknya akan mengikutsertakan wartawan ke Ambalat, namun pihak Angkatan Laut tidak berkenan. “Terakhir TNI AL tak membolehkan,” kata Jafar.

Peninjauan, kata dia, untuk mengetahui lebih dekat kondisi di Ambalat karena sejauh ini pemerintah setempat mengetahui informasi melanggarnya kapal-kapal Malaysia dari media massa. Rombongan berangkat dari Pelabuhan Tunon Taka, Kabupaten Nunukan.

Hingga kemarin siang, Tempo tak melihat ada kapal KRI yang merapat ke pelabuhan tersebut. Sejumlah wartawan yang sebelumnya diajak pemerintah setempat menyatakan kecewa dan memprotes atas pembatalan oleh TNI AL tersebut.

“Sangat kecewa karena kami sejak awal telah didaftar oleh Humas Nunukan, belakangan justru dilarang oleh TNI AL,” kata Hari Imawan Hariadi, wartawan media elektronik asal Balikpapan.

Kekecewaan itu juga diungkapkan Kaharuddin, wartawan harian di Nunukan. “Kami ini punya niatan baik untuk memberikan informasi soal Ambalat yang saat ini sedang bersengketa, kok justru dilarang,” katanya. “Ada apa dengan TNI AL?” Kaharuddin menambahkan.

Akibat pelarangan ini, wartawan yang berasal dari luar Nunukan memutuskan kembali ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sikap TNI Angkatan Laut juga membuat heran Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nunukan Abdul Wahab Kiak. “Kok, tak boleh? Ini kan kunjungan muspida terbuka,” kata dia.

“Yang rahasia itu operasi intelijen, ini cuma kunjungan. Kenapa wartawan dilarang?” ujar Wahab. Menurut dia, kunjungan ini merupakan kunjungan terbuka untuk umum karena buat mengetahui kondisi riil di Ambalat. “Saya sendiri ikut,” ujarnya. Firman Hidayat

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/12/Nusa/krn.20090612.167908.id.html

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *