Bangkrut Sebelum Musim Semi


TEMPO, 04/XXXVIII 16 Maret 2009

Nasib koran-koran Amerika di ujung tanduk. Ada kota besar yang bakal tidak punya surat kabar sama sekali.

SURAT kabar di Amerika Serikat berguguran seperti dedaunan di musim semi. Setelah Chicago Tribune, The Los Angeles Times, dan The Rocky Mountain News bangkrut, kini giliran The Seattle Post-Intelligencer kembang-kempis. Selasa pekan lalu, batas waktu 60 hari yang ditentukan pemilik surat kabar tertua di Seattle, Washington, itu untuk mencari pembeli baru terlewati. Harian itu tak kunjung laku.

Nasib karyawannya pun sudah di tubir jurang. Memang, kata Paul Luthringer, juru bicara The Post-Intelligencer, perusahaannya belum mengambil keputusan apa pun tentang karyawannya. Masa depan harian itu baru akan diumumkan pekan ini. Dan bisa jadi karyawan The Seattle P-I akan mulai kehilangan pekerjaan.

Gelagat ambruknya surat kabar berusia 146 tahun itu sudah kelihatan awal Januari lalu. The Hearst Corporation—pemilik The Post-Intelligencer—punya tiga pilihan: mencari pembeli, beralih jadi media online, atau gulung tikar. Kisah suram The Post-Intelligencer melengkapi tersuruknya media cetak di Negeri Abang Sam. The Star Tribune di Minneapolis, The Philadelphia Inquirer, dan The New Haven Register juga bangkrut dalam tiga bulan terakhir.

Hearst, perusahaan penerbitan yang berbasis di New York, berencana memangkas 170 karyawannya. Sekelompok kecil wartawan memang telah ditawari menjalankan The Post-Intelligencer versi online dalam skala newsroom yang lebih kecil. Ini pun belum pasti. Itu sebabnya karyawan The Post-Intelligencer menyiapkan kemungkinan terburuk. Dalam situsnya, harian ini bahkan mengundang pembacanya saling membagi kenangan terhadap surat kabar yang beberapa kali diganjar Pulitzer Prize itu. The Post-Intelligencer diperkirakan mencetak edisi terakhirnya pekan ini.

Hearst bahkan juga berencana menutup San Francisco Chronicle, koran miliknya, bila surat kabar itu tidak bisa mengikis biaya produksi. Surat kabar itu merugi US$ 1 juta per minggu pada tahun lalu. Jumlah karyawan Chronicle yang akan dipangkas mencapai 150 orang, sepertiga dari total karyawan. Bila The Post-Intelligencer dan Chronicle tutup, keduanya akan menambah panjang daftar surat kabar yang tinggal nama akibat anjloknya pendapatan iklan dan seretnya pembayaran utang.

The Post-Intelligencer merugi US$ 14 juta tahun lalu. Dan kerugiannya diperkirakan kian melar tahun ini. EW Scripps Co. menutup The Rocky Mountain di Denver dua pekan lalu, setelah harian ini buntung US$ 16 juta. Gannett Co Inc.—penerbit USA Today—berencana tidak lagi menerbitkan Tucson Citizen di Arizona. Adapun Advance Publications berencana menutup The Star-Ledger, surat kabar yang begitu dominan di New Jersey. Tapi serikat pekerja surat kabar itu sepakat dengan perusahaan menjaga koran itu tetap terbit meski dalam format tampilan yang jauh lebih kecil.

Seattle Times Company and MediaNews Group, pemilik The Denver Post, The San Jose Mercury News, dan The Detroit News, juga terancam bangkrut. Beberapa surat kabar—mulai The Miami Herald hingga The Chicago Sun—sudah lama diobral, tapi tidak satu pun pembeli melirik.

Belasan surat kabar itu terpuruk setelah krisis ekonomi membabat sumber pendapatan iklan hingga 25 persen. Padahal selama ini iklan menjadi napas industri media cetak. Harga saham kebanyakan penerbit surat kabar luruh lebih dari 90 persen dari posisi puncaknya. Mereka kian ambruk akibat belitan segepok utang yang disalurkan untuk membeli surat kabar lain pada 2005-2007. Alhasil, kata John Morton, analis independen, margin laba operasi media cetak rata-rata hanya 10 persen tahun lalu, anjlok dari 20 persen pada lima tahun lalu.

Nielsen Online menyatakan sirkulasi media cetak luruh dari 62 juta eksemplar pada dua dekade lalu menjadi 49 juta. Hampir semua surat kabar besar di negara itu kini mencetak halaman dan artikel yang lebih sedikit. Sedangkan pembaca media online di Amerika melonjak jadi 75 juta warga.

Tak aneh bila beberapa ekonom dan eksekutif perusahaan surat kabar mengatakan kehadiran surat kabar di negeri itu tinggal masalah waktu—dan waktu yang tersedia tidak banyak—sebelum beberapa kota utama di Amerika ditinggal pergi koran lokal untuk selamanya. Mike Simonton, Direktur Senior Fitch Rating, mengatakan, pada 2009 dan 2010, kota yang tadinya terdiri atas dua surat kabar akan tinggal memiliki satu surat kabar. Dan kota yang terdiri atas satu surat kabar menjadi tidak punya surat kabar sama sekali.

Bila Seattle Times ikut gulung tikar, kota tempat Starbucks didirikan itu bisa jadi akan menjadi kota besar Amerika pertama yang tak lagi memiliki surat kabar. Yandhrie Arvian (AP, NYT, Seattle Times)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/16/EB/mbm.20090316.EB129814.id.html

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *