Wartawan Radar Bali Tewas di Pantai

KORAN TEMPO
Selasa, 17 Februari 2009

Kepala pecah, lidah terjulur, telinga kiri robek, dada dan leher lebam, bola mata hilang.

DENPASAR – Anak Agung Prabangsa, 41 tahun, wartawan harian Radar Bali ditemukan tewas mengambang di Pantai Bias Tugel, Desa Padangbai, Karangasem, Bali, kemarin.

Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Karangasem Ajun Komisaris Syamsul Hayat mengatakan korban ditemukan pukul 09.40 Wita oleh kapten kapal Perdana Nusantara, lantas dilaporkan ke Administrasi Pelabuhan Padangbai.

Mayat dibawa ke Pusat Kesehatan Masyarakat Manggis dan Rumah Sakit Umum Amlapura, kemudian ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Menurut Syamsul, jenazah ditemukan dalam kondisi bengkak, kepala pecah, lidah terjulur, telinga kiri robek, dada dan leher lebam, serta bola mata hilang.

Jenazah memakai celana panjang cokelat tanpa baju. Ditemukan juga kartu identitas, yakni SIM A, C, dan KTP. “Dugaan kematian masih dalam penyelidikan,” katanya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Bali Komisaris Besar Gde Sugianyar Dwi Putra belum bisa memastikan bahwa itu tanda kekerasan. “Kami akan mengungkap penyebab kematiannya dari hasil otopsi,” kata Sugianyar.

Prabangsa, yang sehari-hari bekerja sebagai Redaktur Daerah Radar Bali, dilaporkan hilang pada Rabu pekan lalu. Direkrut Radar Bali Justin M. Herman mengatakan kepergian almarhum tidak diketahui teman-temannya di kantor.

Dia mengaku belum melihat adanya indikasi permasalahan Prabangsa, baik yang terkait dengan pemberitaan, narasumber, maupun hubungan dengan rekan sekantor.

Justin mengenal Prabangsa sebagai pekerja keras, berdisiplin, dan selalu melaporkan apa pun yang dilakukannya. Kepergian Prabangsa, yang tidak masuk kantor tanpa pemberitahuan pada Rabu malam lalu, “Merupakan hal yang tidak biasa dilakukannya,” kata Justin.

Justin sempat berkomunikasi dengan Prabangsa pada Rabu sekitar pukul 11.00 Wita. Sekitar pukul 15.00 Prabangsa juga sempat melakukan kontak telepon dengan rekannya sesama redaktur. Namun, setelah itu telepon selulernya tidak bisa dihubungi.

Prabangsa telah bertugas di Radar Bali selama tujuh tahun 10 bulan. “Penyebab meninggalnya Prabangsa masih misterius. Kami meminta polisi mengusut tuntas,” ujarnya.

Adik tiri Prabangsa, Anak Agung Samudera, mengatakan kakaknya itu meninggalkan rumahnya di Jalan Nusa Kambangan Nomor 200, Denpasar, pada Rabu pagi.

Sepeda motornya dititipkan pada Rabu siang di rumah orang tuanya di Banjar Taman Bali, Bangli. Almarhum sempat menerima telepon dari seseorang, lalu keluar rumah berjalan kaki tanpa memberi tahu keluarga. “Dia pergi membawa HP,” kata Samudera.

Setahu Samudera, Prabangsa tidak pernah bercerita tentang apakah dirinya memiliki persoalan dengan seseorang. “Kami tidak memiliki firasat apa pun,” ujarnya.

Prabangsa meninggalkan seorang istri, Sagung Mas Prihantini, dan dua orang anak yang duduk di kelas II sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. Keluarga sepakat jenazah Prabangsa diotopsi. Almarhum akan dimakamkan di kampung halamannya, Banjar Pande, Bangli. NI LUH ARIE SL | ALI ANWAR

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *