Wartawan Ditemukan Tewas Mengenaskan


KOMPAS
Selasa, 17 Februari 2009 | 01:02 WIB

Keluarga Mencari Korban Sejak Rabu Pekan Lalu

Denpasar, Kompas – Wartawan Radar Bali, Anak Agung Prabangsa (45), Senin (16/2), ditemukan tewas mengambang di Pantai Bias Tugel, Desa Padang Bai, Karangasem, Bali. Saat ditemukan nelayan, kondisi korban sangat mengenaskan.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Bali Komisaris Besar Gde Sugianyar menyatakan, polisi belum menyimpulkan apa pun, termasuk penyebab kematian korban serta ada tidaknya kaitan kasus ini dengan aktivitas Prabangsa sebagai redaktur berita-berita daerah (kabupaten) harian Radar Bali (grup Jawa Pos).

”Informasi yang kami terima masih sangat minim. Sembari menunggu hasil visum et repertum dari tim dokter Sanglah, kami akan melakukan penyelidikan seoptimal mungkin berdasarkan keterangan yang diperoleh di lapangan,” kata Sugianyar, saat ditemui di kompleks Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah.

Informasi mengenai tewasnya Prabangsa mendapat perhatian jurnalis di Bali, khususnya Denpasar. Mereka berkumpul di halaman kompleks kamar jenazah RSUP Sanglah guna menunggu hasil otopsi Prabangsa.

Sekelompok nelayan

Menurut Sugianyar, jasad Prabangsa ditemukan sekelompok nelayan di Bias Tugel, 400 meter arah barat Pelabuhan Padang Bai, pukul 09.40 Wita. Penemuan itu selanjutnya diinformasikan kepada pihak Administrator Pelabuhan Padang Bai, yang langsung berkoordinasi dengan aparat Polair Polda Bali untuk evakuasi.

Selang setengah jam, jasad korban bisa diangkat, diangkut ke puskesmas terdekat, dan akhirnya dibawa ke RSUD Amlapura, Klungkung.

”Ketika ditemukan, Prabangsa tidak mengenakan baju. Identitasnya diketahui dari KTP dan SIM A serta C yang ditemukan di saku celananya,” tambah Sugianyar.

Menurut Direktur Radar Bali Justin Maurits Herman, Prabangsa sudah tidak masuk kerja sejak Rabu pekan lalu. Keesokan harinya, keluarga Prabangsa di Denpasar mengonfirmasikan bahwa dia tidak pulang ke rumahnya di Jalan Nusa Kambangan sejak Rabu.

”Keluarga dan pihak manajemen Radar Bali langsung melaporkan kehilangan Prabangsa ke Poltabes Denpasar,” ujar Justin.

Di luar kebiasaan

Menghilangnya Prabangsa, menurut Justin, sangat di luar kebiasaan. ”Biasanya dia memberi tahu rekan kantor atau istrinya jika berencana pergi ke suatu tempat. Sepanjang Rabu, saya dan dia hanya sekali berhubungan via telepon, sekitar pukul 15.00. Jawabannya pun singkat. Lalu, sesudah itu tidak dapat dihubungi lagi,” kata Justin.

Dari pengakuan adik tirinya, Agung Samudera, Rabu siang itu Prabangsa pulang ke rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli. Bahkan, dia menyempatkan diri mengunjungi rumah salah satu kerabatnya yang mengadakan upacara adat.

”Menjelang pukul 15.00 Wita, Prabangsa mendapat telepon. Beberapa saat kemudian dia pergi dengan terlebih dulu menitipkan sepeda motor dan helm di rumah orangtuanya,” ujarnya.

Justin menganalisis, tidak ada masalah berarti dengan aktivitas Prabangsa sebagai redaktur selama enam tahun terakhir. Ia menilai, anak buahnya itu wartawan andal. Justin berharap polisi mampu mengungkap kasus ini dalam waktu dekat. (BEN)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/17/23485553/perseorangan.tak.bisa.jadi.calon.presiden

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *