Mengenang Munir: He’s Gone

Ini catatanku tentang Munir, yang kubuat dua hari setelah ia meninggal dalam perjalanan menuju Belanda dengan pesawat Garuda 974 pada Selasa, 7 September 2004. Catatan ini pernah kukirimkan ke Redaksi Tempo.

Sedangkan dua foto almarhum yang kupasang jelas merupakan foto lama. Waktu itu aku mendapat kesempatan dua kali mewawancarai Munir di Batu untuk memenuhi tugas dari kantor. Ketika itu penyakit levernya sedang kumat.

Almarhum kufoto pada Selasa, 2 April 2002.
Satu foto ia sedang memangku putra pertamanya yang waktu itu berumur 4 tahun, Sultan Alif Allende. Suciwati, sang istri, waktu itu sedang mengandung Diva Suu Kyi Larasati. Kandungannya kira-kira berumur tiga bulan.

Dalam foto kedua almarhum sedang mengelus-elus Jhonny, ayam pelung berumur 1,5 tahun yang diberikan seorang temannya di Cianjur. Si Jhonny setia membangunkan Munir untuk salat subuh dengan berkokok nyaring.

Setahu dan seingatku, kecuali Tempo,
foto Munir bersama Jhonny pernah dimuat beberapa media tanpa menyebutkan namaku selaku pemotretnya, kecuali diklaim sebagai dokumen milik Komunitas Utan Kayu. Tapi ini bukan masalah dan tiada siapa pun yang patut disalahkan. (ABDI PURMONO/ABEL)


————————————————————————–

Aku merasa beruntung pernah berjumpa dengan Munir ketika Redaksi Tempo News Room menugasiku mewawancarai almarhum di rumahnya yang asri oleh ragam tanaman di Batu. Itulah kali pertama aku bertemu dengan Munir, tokoh kondang yang sebelumnya kukenal dari media massa.

Sialnya, aku baru tahu dari Komang jika laporan itu dimuat di rubrik Tamu Koran Tempo edisi Minggu, April 2002. Sayang sekali, aku tahunya setahun setelah laporan itu dimuat. Hingga sekarang aku masih berharap bisa mendapatkan Koran Tempo yang kumaksud buat dokumentasi pribadi.

Munir kutemui dua kali, Senin (1/4/) malam dan Selasa (2/4) siang, di tahun 2002. Sebenarnya waktu itu kondisi fisiknya jelek. Penyakit levernya kumat tapi dia memang keras kepala. Dia tetap meladeni sejumlah pertanyaan yang kuajukan berdasarkan garis besar dari Redaksi.

Semula aku menyangka Munir seorang yang sangat serius sehingga untuk tersenyum pun susah sekali. Sangkaanku kontan berubah begitu tanya-jawab berlangsung. Aku makin mengagumi pribadi seorang Munir, yang tidak saja bersahaja dalam berpenampilan, tapi juga lugas dan tangkas dalam berargurmen. Pun, mampu berseloro dengan cara yang bernas.

Dalam kesempatan berbeda, aku masih bisa menikmati sikapnya yang hangat, terbuka, dan gampang akrab. Gaya bicaranya pun nyaris tidak berubah. Hingga sekarang aku tak bisa menemukan cacat Munir, kecuali dia seorang yang amat keras kepala, terlebih tatkala dia sudah merasa benar. Cacat ini pun bukan sesuatu yang buruk lantaran dia membuktikan diri tetap istiqamah pada ide-idenya dan tiada ragu pada keyakinannya. Dan, kerja kerasnya terbukti.

Banyak hal baik yang bisa diingat dari Munir. Salah satu yang paling impresif: “Sebetulnya saya tidak setuju disebut orang yang berani dan nekat. Saya bukan seorang pemberani. Saya merasa biasa-biasa saja. Cuma, saya mencoba menjadi orang yang rasional terhadap risiko kerja; menjadi orang yang selalu meyakini apa yang saya kerjakan adalah benar. Keyakinan ini yang membuat saya berusaha tenang dalam semua situasi. Itu saja prinsipnya. Saya juga meyakini bahwa Tuhan tidak akan membebani hambanya di luar kemampuannya dia. Itu sudah jaminan. Sebagai manusia biasa tentu saja saya punya banyak keterbatasan.”

Sekarang, aku tak lagi bisa bertemu dengannya. Tidak lagi dapat menikmati sikap dan gayanya yang asyik. He’s gone… Tapi, tentu saja ide-ide, pemikirannya tidak akan ikut raib begitu saja. Aku hanya menyesalkan mengapa Tuhan begitu gampang mencabut nyawa orang baik berusia muda dan produktif, seperti Munir, seperti Ahmad Wahib, seperti Soe Hok Gie, tapi seakan sengaja membiarkan para politisi busuk dan koruptor yang pura-pura sakit tetap hidup berkepanjangan. Dalam baik sangka, aku percaya Tuhan punya cara sendiri untuk mencintai hambanya nan mulia.

Munir telah wafat. Dia telah mengorbankan dirinya buat proyek besar kemanusiaan yang belum selesai. Teramat banyak orang yang kehilangan dia sehingga aku pun tak sendiri dalam duka. Munir seorang yang ikhlas. I think, Munir had no desire to rise in the world. He loved his daughters.

Aku percaya, he considered himself unlucky karena mati muda (8 Desember 1965 – 7 September 2004). His life was short but full; hidupnya memang pendek tapi penuh. (Malang, 9 September 2004).

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *