Demokrasi Menang di Kongres AJI

Kongres ketujuh AJI sudah berlalu. Gairah, kegetiran, dan optimisme mewarnai jalannya kongres sampai Nezar Patria dan Jajang Jamaludin mendapat mandat memimpin AJI selama tiga tahun hingga 2011.

Delegasi peserta kongres bergairah mengusulkan nama-nama kandidat. Kegetiran dirasakan peserta kongres yang jagonya kalah. Tidak seluruh peserta kongres mendukung duet Nezar-Jajang. AJI Surabaya, misalnya, meninggalkan ruang sidang (walk out) untuk menolak pencalonan Nezar-Jajang.

Namun, di akhir kongres, delegasi AJI Surabaya tampak akur dengan ketua dan sekretaris jenderal terpilih. Begitu pula dengan beberapa delegasi lain yang tak mendukung pasangan Nezar-Jajang.

Sikap, tingkah laku, dan pilihan politik boleh berseberangan, tapi tidak lantas sampai merusak hubungan personal antarsesama anggota AJI. Mengutip pesan moral dalam novel Totto-chan karya Tetsuko Kuroyanagi, sesungguhnya tiada persaingan, tiada kalah-menang di kongres AJI.

Pemenang sejatinya adalah demokrasi. Demokrasi sebuah keniscayaan di AJI. Semoga jiwa demokratis yang dimiliki AJI tidak pudar hanya gara-gara perbedaan sikap, gaya, dan perilaku politik.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *